Explorasi 2019 hari pertama



Hari pertama

Sore itu aku berangkat dari rumah menuju stasiun Senen. Jarak antara rumah dan stasiun Senen cukup jauh jadi kalau berangkat malam bisa telat.

Sampai disana aku makan dulu di kedai bakso lalu berkumpul dengan teman-teman.

Setelah foto-foto, mengambil tiket dan briefing, kami akhirnya berangkat menuju Tasik Malaya.

Selama dikereta
Selama di kereta, aku dan teman-teman sebangkuku yaitu Kayyisha, Tachi dan Khansa bermain kartu remi dan UNO, ngobrol-ngobrol, ngemil dan tentunya tidur. Kami juga menyaksikan teman-teman dibangku sebelah ditegur satpam karena berisik sehingga mengganggu penumpang yang lain, untungnya teman-teman sebangkuku sopan dan teratur jadi waktu di kereta kami duduk dengan tenang, lega dan nyaman selama 8 jam.

Sampai di Tasik Malaya
Sesampainya di Tasik Malaya kami shalat Shubuh dulu di masjid dekat stasiun lalu berangkat lagi ke alun-alun Tasik Malaya naik mobil bak yang sepertinya Memang sudah dipesan oleh kakak mentor.

Di mobil bak aku duduk di tengah-tengah, rasanya pengap sekali. Untung udaranya sejuk jadi masih bisa bersabar selama kurang-lebih  30 menit.

Akhirnya sampai di alun-alun kami bermain kena-jaga dan benteng. Aku juga mengambil foto disana dengan kamera analog. Entah sebenarnya apa tujuan kami kesana, alun-alun memberi kenangan seru bagiku, bisa menikmati udara sejuk, langit yang masih biru dan hal seru lainnya.

Cukup lama juga kami di alun-alun, kamipun jalan lagi dengan mobil bak menuju desa Sukajadi. Saat kami berangkat Alfar hampir saja ditinggal pergi karena yang lain lupa kalau Alfar sedang berada di toilet hal itu membuat mobil bak putri jalan terlebih dahulu walau yang sampai duluan mobil bak putra.

Keseruan di mobil bak
Kali ini aku berdiri di mobil bak, angin sepoy-sepoy dan lainnya yang berhubungan dengan udara  dan pemandangan membuat moodku senang ( lebih senang dari sebelumnya ) kembali apalagi bisa teriak-teriak di mobil melampiaskan seluruh kelelahan selama di kereta. Aku juga menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami dan mereka menyapa kembali.

 Akhirnya kami sampai di desa Sukajadi atau lebih tepatnya di kampung Zuhud. Disana kami bertemu dengan abah Apep, Ambuh Yoan dan Yazdad, mereka adalah salah satu warga kampung Zuhud. Setelah kami berkenalan, kami makan siang bersama di saung, makan nasi kuning yang sudah di pesankan oleh ambuh. Kami diberi kesempatan tidur di saung selama 30 menit atau mengerjakan log book oleh kakak mentor, aku memilih untuk tidur karena kelelahan saat tadi berdiri di mobil bak.

“ Din, bangun din! “ Entah suara siapa yang membangunkanku, akupun terbangun dari tidur. sudah waktunya memulai kegiatan lagi. Kegiatan kali ini kami melepaskan ikan di empang. Jarak antara empang dan saung lumayan jauh jadi kami jalan dulu melewati hutan-hutan. Saat di empang aku diberi beberapa ikan untuk dilepas. Aku melepaskan ikan dengan sangat hati-hati agar ikannya tak pusing, hal itu membuatku ditertawakan oleh teman-teman semua. Ikan-ikan yang dilepas putri adalah ikan mas sementara ikan yang dilepas putra adalah ikan mujair, pada saat giliran temanku Giga mendapatkan giliran melepas ikan, bapak yang membantu kami melepas ikan mengira Giga seorang perempuan karena berambut panjang dan postur badan yang seperti perempuan, hal itu membuat Giga malah diberi ikan mas.

Lanjut ke kegiatan selanjutnya yaitu main sepuasnya di dam. Air di dam sangatlah jernih, disana juga tak ada ikan jadi aman bagi kami. Teman-teman yang lain bermain “ terjun-terjunan “ dari ketinggian kalau tak salah 10 meter. Aku takut loncat dengan ketinggian tersebut dan kolamnya agak dalam, aku juga belum pandai berenang jadi aku memutuskan untuk tidak ikut main terjun-terjunan.

***
Setelah kulitku menjadi keriput, gosong dan pastinya kuyup akhirnya kami pulang dengan baju yang berat, sementara jalanan pulang itu tanjakan, angin pun bertiup kencang, membuatku masuk angin.

Malampun tiba, badanku sudah segar setelah mandi, rasanya ingin langsung tidur sampai besok pagi, tapi kami masih belum boleh pergi kerumah inang, tempat yang akan kami tinggali nanti dan harus makan malam bersama di saung dulu.

 Badanku sudah pegal-pegal, mata sudah meram-melek melulu akhirnya kami regu azalea yaitu Indri, Titan, Kayyisha dan aku sudah boleh pulang ke rumah inang. Ibu inang kami bernama ibu Eti, dia adalah seorang janda tua yang tinggal sendiri di rumahnya, ia bekerja sebagai petani, ibu Eti juga tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia tapi mengerti arti-artinya, hal itu membuatku kesulitan saat berbicara dengan bu Eti ( aku satu-satunya yang bukan orang sunda di regu azalea ). Rumah bu Eti sangatlah sederhana, masih ada sumurnya, masih pakai tungku, masih pakai seterika arang dan masih pakai lampu pijar. Saat kerumah bu Eti, bu Eti juga mengundang tetangga lainnya lalu kami ngobrol bersama malam itu. Aku juga berkenalan dengan seorang anak perempuan bernama Ashila yang usianya kalau tak salah 4 tahun, dia juga ikut ngobrol dengan kami. Waktu menunjukan pukul 09.00 malam waktunya kami tidur.

Komentar