Explorasi 2019 hari ke-2

Hari ke-2
Kukuruyuuuuk!!! Suara ayam ada dimana-mana membuatku terbangun dari tidur, aku langsung bergegas shalat melihat bu Eti yang sudah memulai aktivitasnya. Selesai shalat kami berangkat ke saung untuk bertemu kakak-kakak mentor yang akan melakukan refleksi bersama.

Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti, membantu beres-beres rumah. Aku membantu bu Eti mengepel rumah, saat aku bertanya pada bu Eti “Bu mau pinjem pel, Pelnya dimana ya?“ bu Eti malah memberi selembar kain dan bilang “Ini pelnya“ ternyata bu Eti kalau  mengepel pakai kain, alhasil akupun mengepel dengan kain. Ini pertama kalinya aku mengepel dengan kain untuk satu rumah, ternyata seru dan lelah juga.

“Ini makan dulu“ panggil bu Eti yang sedang menghidang semangkuk nasi dan lauk-lauknya. Kami lesehan di teras rumah bu Eti karena di teras lebih nyaman buat kami dan bisa sambil memberi makan kucing.
Sehabis sarapan kami diajak memotong ayam oleh bu Eti yang membantu memotong ayam pak Engkus tetangga depan rumah bu Eti dan yang mencabuti bulunya kami semua (regu azalea) aku juga coba memotong bagian-bagian tubuh ayam dengan kapak, ini pertama kalinya aku memotong dengan kapak jadi aku sedikit kesulitan saat memotong. Setelah ayam sudah dicuci bersih, kami mulai memasak dibantu oleh bu Eti, ayam ini kami olah menjadi ayam rica-rica.


Membuat rujak
Setelah lelah memasak kami dan regu libra membuat rujak bersama. Hal memalukan terjadi karena “Andini tak bisa mengupas mangga“ diruma, ibu selalu mengajari cara mengupas mangga dan aku tetap belum bisa sampai sekarang. mengupas mangga yang sudah matang Saja aku masih kesulitan, apalagi yang belum matang untung ada Kayyisha yang bisa mengupas mangga jadi ada yang membantuku. Sementara itu Indri dan Titan menumbuk bumbu rujak.

***

Aku dan Indri diajak mencuci baju bersama ibu Eti di dekat empang, disitu ada sumur yang memang biasa digunakan oleh warga sekitar. Disini aku mencuci baju dengan ember, dikucek-kucek, diperas-peras hingga yang ada baju yang sedang kupakai ikut basah. Aku selesai mencuci baju terlebih dahulu, disaat yang sama Kayyisha dan Titan sedang menangkap belalang di dekat empang juga, jadi aku ikut menangkap belalang bersama mereka, niatnya untuk dimasak tapi akhirnya tidak jadi karena kami lupa.

Satu jam berlalu, kami seregu kembali bermain lagi seperti biasa yaitu memanjat pohon di dekat rumah bu Eti dan main kartu. Karena kelaparan kami akhirnya mencicipi ayam rica-rica yang tadi dimasak bersama ibu Eti. Sambil makan kami juga ngobrol-ngobrol dengan bu Eti di dapur rumah.

Kenyang sudah perutku, waktunya  bermain lagi! aku bermain kartu UNO dengan Kayyisha, Nico, Yazdad, Syauqi dan Danish di teras rumah bu Eti, ditengah-tengah saat bermain tiba-tiba ada sekelompok anak kampung (mereka lebih suka dipanggil begitu) yang mengajak kami bermain bola dilapangan yang dekat dengan saung, aku hanya nonton mereka main saja dari saung karena siang jam 12-an bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk bermain diluar ruangan.


Bermain di rumah pak Jaka
Lama-lama cuaca diluar semakin panas membuatku ingin pulang kerumah bu Eti tetapi tim orchid yaitu Khansa, Tachi dan Aliyah mengajak kami regu-regu putri  untuk bermain bersama di rumah pak Jaka, seperti biasa, permainan yang kami mainkan adalah kartu remi dan UNO, yang menang akan mendapatkan keripik gula aren kesukaan kami semua tapi hal itu hanya bertahan sampai ronde ke-2. “Eh, pada mau bantuin masak nggak nih?“ tanya bu Itin ibu inang tim orchid. Kami semua langsung berlari ke dapur, cuci tangan, duduk, menunggu diminta tolong, “siapa nih yang mau motongin kangkung?“ tanya bu Itin lagi. Kami semua bergegas mengambil pisau, talenan dan baskom untuk memotong kangkung yang pada akhirnya... kami memotong secara bergantian. Aku ingin memotong kangkung dengan cepat agar ibu Itin tidak menunggu lama yang ada kami malah bermain “siapa paling cepat memotong kangkung“.

Setelah berjam-jam di rumah pak Jaka, kami kembali ke rumah bu Eti, ternyata bu Eti sedang mencari kayu bakar di hutan dekat rumah lalu kami ikut membantunya, kami juga belajar memotong-motong dahan pohon pisang dengan golok, lalu pulangnya kami yang gotong-gotong kayu bakarnya.

Seharian ini kami sudah banyak main, berkeringat lalu menjadi bau, pliket dan panas. Ini adalah saat yang tepat untuk mandi, aku dan Kayyisha numpang mandi di rumah pak Komar dengan Tisyara dan Naura. Selesai mandi kami semua shalat mahgrib berjama’ah di masjid yang agak jauh dari rumah bu Eti (aku lupa nama masjidnya). Sesudah itu kami kumpul refleksi malam hari di saung dengan kakak mentor, regu azalea diberi kesempatan untuk menelepon orangtua masing-masing, saat aku menelepon hanya ibu dan kakaku yang ada, ayahku sedang mandi jadi aku menelepon dengan kucing-kucing ku dirumah, suaranya lucu sekali membuatku kangen dengan mereka. Aku menelepon paling lama, membuat teman-teman reguku menunggu lama.

Karena Kami sudah lapar dan ngantuk jadi kami balik ke rumah bu Eti dari saung. Sebelum tidur kami makan dulu di teras rumah, sambil makan kami melakukan “Sesi curhat“ hal ini kami lakukan agar saling kenal dekat satu sama lain.

Waktu menunjukan pukul 09.00, tak terasa kami ngobrol cukup lama sampai lupa kalau bu Eti masih menunggu kami di dalam rumah, akhirnya kami memutuskan untuk tidur.

Komentar