Sabtu, 30 November 2019
Explorasi 2019 hari ke-5
Suara adzan berkumandang, kami semua terbangun dari mimpi, tapi dalam posisi masih terbaring di ubin, satu-persatu mulai melangkahkan kaki ke toilet, shalat dan mencuci sandal yang sehari sebelumnya bertumpuk dengan tanah. kejadian mirip seperti kemarin, kami telat Berangkat ke saung untuk refleksi lagi karena mencuci sandal dulu, tapi sandal kami jadi sandal yang paling bersih di antara regu-regu lain.
Ke tempat pembuatan sotong
Kegiatan pertama hari ini adalah pergi ke tempat pembuatan sotong yang tempatnya cukup jauh dari rumah bu Eti maupun dari saung, disana tempatnya seru, besar, bersih dan sejuk. Kami diajari cara membuat sotong dengan karyawan disana, kami juga diberi kesempatan mencoba menggulung dan membakar sotong. Aku dan Kayyisha memiliki gulungan sotong yang rapi sehingga sotong buatan kami berdua disortir untuk dijual. Sayang sekali waktu aku mencoba Membakar adonan sotongnya, aku gagal, seharusnya berbentuk seperti pancake namun malah seperti obat nyamuk bakar.
Setelah berkunjung ke tempat pembuatan sotong Kami bersama regu-regu lain makan siang bersama di saung, dilanjutkan dengan belajar membuat angklung. Sayang sekali di kegiatan yang seru ini aku malah tertidur saking ngantuknya, tapi aku terbangun ditengah belajar main angklung. Ternyata bermain alat musik angklung itu seru!
Setelah rasa ngantukku pudar kami lanjut ‘Menangkap ikan’ di empang. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Regu putri lebih dulu menangkap ikan, hasil tangkapan regu-regu putri tak begitu banyak, sedangkan regu-regu putra mendapatkan ikan yang banyak karena ikanya sudah mabuk dan airnya juga sedikit menyurut, kalau ikannya mabuk dia akan mengapung jadi lebih mudah untuk ditangkap.
Waktu jalan pulang menuju rumah bu Eti tiba-tiba hujan deras. Aku sampai dirumah lebih dulu sementara Kayyisha, Titan dan Indri terjebak hujan deras di saung. Aku menunggu hujan reda di teras rumah bu Eti agar bisa mandi dengan reguku tapi ternyata mereka sedang asik main hujan-hujanan dengan yang lain. Jadilah aku masuk angin, untung Kayyisha dan Titan pulang lebih cepat, aku jadi bisa mandi lebih cepat.
Setelah mandi kami latihan bernyanyi bersama regu libra, regu libra menciptakan lagu dangdut koplo dan tim azalea sebagai ‘Backsoundnya’ tapi akhirnya mereka tak jadi tampil dikarenakan Alfar sedang sakit.
Pentas untuk kampung Zuhud
Malamnya kami akhirnya melakukan pentas di lapangan dekat saung. Di tengah lapangan juga dinyalakan api unggun dan disediakan makanan seperti ikan, sate kambing, nasi liwet dan banyak lagi. Regu azalea menjadi regu ke-3 yang tampil, saat tampil aku agak sedikit grogi hingga lupa lirik lagu. Alhamdulillah pentasnya berjalan lancar, selesai bernyanyi tubuhku langsung tenang setelah panik karena tegang. Sesudah itu aku briefing sedikit dengan regu taurus soal pentas mereka yaitu ‘Drama Malin kundang’ aku membantu mendirect sedikit dan juga styling. Regu taurus berhasil membuat ramai kampung Zuhud dengan tawa karena drama komedinya yang konyol. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Api unggun, sate kambing, nasi liwet, pentas dan banyak hal yang menjadi kenangan indah di kampung Zuhud. Malam terakhir di kampung Zuhud ini kami tutup dengan tidur.
Explorasi 2019 hari ke-3
Duk,duk,duk, pagi-pagi pukul 03.59 kami terbangun mendengar suara bu Eti yang sedang beres-beres rumah. Seusai bangun tidur kami melipat sleeping bag dulu. Aku selalu saja gagal melipatnya, hal tersebut malah membuang-buang waktu hingga membuat kami telat berangkat ke saung untuk refleksi.
Setelah selesai shalat kami berangkat ke saung untuk refleksi. Kami menjadi regu paling telat datang karena ‘gagal melipat sleeping bag berkali-kali’.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti untuk sarapan. Tercium aroma gorengan yang rasanya manis dari dapur yaitu pisang goreng, pisang goreng buatan ibu Eti sangatlah lezat jadi kami hanya sarapan pisang goreng.
Selesai sarapan kami lanjutkan dengan tilawah surat an-naba, setiap orang 5 ayat berganti giliran.
Setelah tilawah kami seregu mengerjakan log book bersama sambil tiduran di teras rumah bu Eti. Kami juga iseng mencorat-coret ubin rumah bu Eti dengan pensil tapi setelah itu kami hapus lagi.
Seperti biasa, aku dan Kayyisha bermain kartu lagi, kali ini kami bermain di dekat tebing sambil melihat pemandangan hutan-hutan, desa-desa dan awan-awan. Tebingnya lumayan dekat dengan saung jadi masih ada kakak-kakak mentor yang mengawasi.
Bermain di rumah pak Ondin
“Kita balik ke rumah bu Eti yuk!“ ajakku pada Kayyisha, ditengah-tengah perjalanan pulang kami bertemu Vacha teman kami sedang buru-buru mengambil barang, lalu aku tanya “Eh, teman-teman yang lain pada kemana sih?“
“Lagi pada minum air kelapa di rumah inang regu leo“ jawabnya.
Aku dan Kayyisha langsung berlari kesana, takut kehabisan air kelapa. Kami bertemu regu taurus, leo, pisces, libra, aquarius dan azalea (Indri dan Titan) di rumah pak Ondin ayah inang regu leo mereka sedang meminum air kelapa dari batoknya, untungnya aku dan Kayyisha masih kebagian air kelapa, entah kenapa air kelapa yang kami minum rasanya kayak ada sodanya, tapi enak juga sih setelah kenyang air kelapa kami bermain kartu UNO dengan regu-regu yang tadi minum kelapa bersama kami, kami lesehan di taman rumah pak Ondin dengan pepohonan yang rimbun dan angin semilir, membuat kami betah disana.
Kegiatan yang diadakan kakak mentor hari ini adalah menanam pohon di hutan dekat saung sebagai kenang-kenangan. Kata Kak Andit, “Menanam pohon adalah kenan-kenangan yang long lasting“. Reguku menanam pohon mangga dan durian. Kami jadi belajar mengetahui penggunaan peralatan menanam. Disaat kami baru selesai menanam hujan pun turun, akhirnya kami lanjutkan dengan bermain hujan. sandal-sandal tebal dengan tanah membuat kami jadi malas jalan-jalan keman-mana. Akhirnya kami kembali ke rumah pak Ondin untuk bermain kartu lagi, rumah pak Ondin sangatlah seru untuk digunakan sebagai tempat bermain, luas dan sejuk.
Langit menunjukan waktu mahgrib, aku dan reguku segera kembali ke rumah bu Eti untuk mandi, shalat dan makan malam bersama melanjutkan “Sesi curhat“ sehari sebelumnya. Lalu berangkat Ke saung untuk refleksi dengan kakak mentor. Kami diberi tahu bahwa akan ada pentas kecil untuk warga kampung Zuhud yang diadakan oleh kakak mentor besok malam. Kami memilih bernyanyi untuk pentas tersebut, lagu yang kami pilih berjudul “Laskar pelangi“ jadi malam itu kami latihan menyanyi di rumah bu Eti.
sebelum tidur kami ditugaskan oleh kakak mentor untuk mengerjakan log book. Sambil mengerjakan kami memakan cemilan yang ada dimeja ruang tamu bu Eti, sampai seperempat toples besar, lalu tertidur pulas di dalam sleeping bag.
Explorasi 2019 hari ke-2
Kukuruyuuuuk!!! Suara ayam ada dimana-mana membuatku terbangun dari tidur, aku langsung bergegas shalat melihat bu Eti yang sudah memulai aktivitasnya. Selesai shalat kami berangkat ke saung untuk bertemu kakak-kakak mentor yang akan melakukan refleksi bersama.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti, membantu beres-beres rumah. Aku membantu bu Eti mengepel rumah, saat aku bertanya pada bu Eti “Bu mau pinjem pel, Pelnya dimana ya?“ bu Eti malah memberi selembar kain dan bilang “Ini pelnya“ ternyata bu Eti kalau mengepel pakai kain, alhasil akupun mengepel dengan kain. Ini pertama kalinya aku mengepel dengan kain untuk satu rumah, ternyata seru dan lelah juga.
“Ini makan dulu“ panggil bu Eti yang sedang menghidang semangkuk nasi dan lauk-lauknya. Kami lesehan di teras rumah bu Eti karena di teras lebih nyaman buat kami dan bisa sambil memberi makan kucing.
Sehabis sarapan kami diajak memotong ayam oleh bu Eti yang membantu memotong ayam pak Engkus tetangga depan rumah bu Eti dan yang mencabuti bulunya kami semua (regu azalea) aku juga coba memotong bagian-bagian tubuh ayam dengan kapak, ini pertama kalinya aku memotong dengan kapak jadi aku sedikit kesulitan saat memotong. Setelah ayam sudah dicuci bersih, kami mulai memasak dibantu oleh bu Eti, ayam ini kami olah menjadi ayam rica-rica.
Membuat rujak
Setelah lelah memasak kami dan regu libra membuat rujak bersama. Hal memalukan terjadi karena “Andini tak bisa mengupas mangga“ diruma, ibu selalu mengajari cara mengupas mangga dan aku tetap belum bisa sampai sekarang. mengupas mangga yang sudah matang Saja aku masih kesulitan, apalagi yang belum matang untung ada Kayyisha yang bisa mengupas mangga jadi ada yang membantuku. Sementara itu Indri dan Titan menumbuk bumbu rujak.
***
Aku dan Indri diajak mencuci baju bersama ibu Eti di dekat empang, disitu ada sumur yang memang biasa digunakan oleh warga sekitar. Disini aku mencuci baju dengan ember, dikucek-kucek, diperas-peras hingga yang ada baju yang sedang kupakai ikut basah. Aku selesai mencuci baju terlebih dahulu, disaat yang sama Kayyisha dan Titan sedang menangkap belalang di dekat empang juga, jadi aku ikut menangkap belalang bersama mereka, niatnya untuk dimasak tapi akhirnya tidak jadi karena kami lupa.
Satu jam berlalu, kami seregu kembali bermain lagi seperti biasa yaitu memanjat pohon di dekat rumah bu Eti dan main kartu. Karena kelaparan kami akhirnya mencicipi ayam rica-rica yang tadi dimasak bersama ibu Eti. Sambil makan kami juga ngobrol-ngobrol dengan bu Eti di dapur rumah.
Kenyang sudah perutku, waktunya bermain lagi! aku bermain kartu UNO dengan Kayyisha, Nico, Yazdad, Syauqi dan Danish di teras rumah bu Eti, ditengah-tengah saat bermain tiba-tiba ada sekelompok anak kampung (mereka lebih suka dipanggil begitu) yang mengajak kami bermain bola dilapangan yang dekat dengan saung, aku hanya nonton mereka main saja dari saung karena siang jam 12-an bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk bermain diluar ruangan.
Bermain di rumah pak Jaka
Lama-lama cuaca diluar semakin panas membuatku ingin pulang kerumah bu Eti tetapi tim orchid yaitu Khansa, Tachi dan Aliyah mengajak kami regu-regu putri untuk bermain bersama di rumah pak Jaka, seperti biasa, permainan yang kami mainkan adalah kartu remi dan UNO, yang menang akan mendapatkan keripik gula aren kesukaan kami semua tapi hal itu hanya bertahan sampai ronde ke-2. “Eh, pada mau bantuin masak nggak nih?“ tanya bu Itin ibu inang tim orchid. Kami semua langsung berlari ke dapur, cuci tangan, duduk, menunggu diminta tolong, “siapa nih yang mau motongin kangkung?“ tanya bu Itin lagi. Kami semua bergegas mengambil pisau, talenan dan baskom untuk memotong kangkung yang pada akhirnya... kami memotong secara bergantian. Aku ingin memotong kangkung dengan cepat agar ibu Itin tidak menunggu lama yang ada kami malah bermain “siapa paling cepat memotong kangkung“.
Setelah berjam-jam di rumah pak Jaka, kami kembali ke rumah bu Eti, ternyata bu Eti sedang mencari kayu bakar di hutan dekat rumah lalu kami ikut membantunya, kami juga belajar memotong-motong dahan pohon pisang dengan golok, lalu pulangnya kami yang gotong-gotong kayu bakarnya.
Seharian ini kami sudah banyak main, berkeringat lalu menjadi bau, pliket dan panas. Ini adalah saat yang tepat untuk mandi, aku dan Kayyisha numpang mandi di rumah pak Komar dengan Tisyara dan Naura. Selesai mandi kami semua shalat mahgrib berjama’ah di masjid yang agak jauh dari rumah bu Eti (aku lupa nama masjidnya). Sesudah itu kami kumpul refleksi malam hari di saung dengan kakak mentor, regu azalea diberi kesempatan untuk menelepon orangtua masing-masing, saat aku menelepon hanya ibu dan kakaku yang ada, ayahku sedang mandi jadi aku menelepon dengan kucing-kucing ku dirumah, suaranya lucu sekali membuatku kangen dengan mereka. Aku menelepon paling lama, membuat teman-teman reguku menunggu lama.
Karena Kami sudah lapar dan ngantuk jadi kami balik ke rumah bu Eti dari saung. Sebelum tidur kami makan dulu di teras rumah, sambil makan kami melakukan “Sesi curhat“ hal ini kami lakukan agar saling kenal dekat satu sama lain.
Waktu menunjukan pukul 09.00, tak terasa kami ngobrol cukup lama sampai lupa kalau bu Eti masih menunggu kami di dalam rumah, akhirnya kami memutuskan untuk tidur.
Explorasi 2019 hari pertama
Hari pertama
Sore itu aku berangkat dari rumah menuju stasiun Senen. Jarak antara rumah dan stasiun Senen cukup jauh jadi kalau berangkat malam bisa telat.
Sampai disana aku makan dulu di kedai bakso lalu berkumpul dengan teman-teman.
Setelah foto-foto, mengambil tiket dan briefing, kami akhirnya berangkat menuju Tasik Malaya.
Selama dikereta
Selama di kereta, aku dan teman-teman sebangkuku yaitu Kayyisha, Tachi dan Khansa bermain kartu remi dan UNO, ngobrol-ngobrol, ngemil dan tentunya tidur. Kami juga menyaksikan teman-teman dibangku sebelah ditegur satpam karena berisik sehingga mengganggu penumpang yang lain, untungnya teman-teman sebangkuku sopan dan teratur jadi waktu di kereta kami duduk dengan tenang, lega dan nyaman selama 8 jam.
Sampai di Tasik Malaya
Sesampainya di Tasik Malaya kami shalat Shubuh dulu di masjid dekat stasiun lalu berangkat lagi ke alun-alun Tasik Malaya naik mobil bak yang sepertinya Memang sudah dipesan oleh kakak mentor.
Di mobil bak aku duduk di tengah-tengah, rasanya pengap sekali. Untung udaranya sejuk jadi masih bisa bersabar selama kurang-lebih 30 menit.
Akhirnya sampai di alun-alun kami bermain kena-jaga dan benteng. Aku juga mengambil foto disana dengan kamera analog. Entah sebenarnya apa tujuan kami kesana, alun-alun memberi kenangan seru bagiku, bisa menikmati udara sejuk, langit yang masih biru dan hal seru lainnya.
Cukup lama juga kami di alun-alun, kamipun jalan lagi dengan mobil bak menuju desa Sukajadi. Saat kami berangkat Alfar hampir saja ditinggal pergi karena yang lain lupa kalau Alfar sedang berada di toilet hal itu membuat mobil bak putri jalan terlebih dahulu walau yang sampai duluan mobil bak putra.
Keseruan di mobil bak
Kali ini aku berdiri di mobil bak, angin sepoy-sepoy dan lainnya yang berhubungan dengan udara dan pemandangan membuat moodku senang ( lebih senang dari sebelumnya ) kembali apalagi bisa teriak-teriak di mobil melampiaskan seluruh kelelahan selama di kereta. Aku juga menyapa orang-orang yang berpapasan dengan kami dan mereka menyapa kembali.
Akhirnya kami sampai di desa Sukajadi atau lebih tepatnya di kampung Zuhud. Disana kami bertemu dengan abah Apep, Ambuh Yoan dan Yazdad, mereka adalah salah satu warga kampung Zuhud. Setelah kami berkenalan, kami makan siang bersama di saung, makan nasi kuning yang sudah di pesankan oleh ambuh. Kami diberi kesempatan tidur di saung selama 30 menit atau mengerjakan log book oleh kakak mentor, aku memilih untuk tidur karena kelelahan saat tadi berdiri di mobil bak.
“ Din, bangun din! “ Entah suara siapa yang membangunkanku, akupun terbangun dari tidur. sudah waktunya memulai kegiatan lagi. Kegiatan kali ini kami melepaskan ikan di empang. Jarak antara empang dan saung lumayan jauh jadi kami jalan dulu melewati hutan-hutan. Saat di empang aku diberi beberapa ikan untuk dilepas. Aku melepaskan ikan dengan sangat hati-hati agar ikannya tak pusing, hal itu membuatku ditertawakan oleh teman-teman semua. Ikan-ikan yang dilepas putri adalah ikan mas sementara ikan yang dilepas putra adalah ikan mujair, pada saat giliran temanku Giga mendapatkan giliran melepas ikan, bapak yang membantu kami melepas ikan mengira Giga seorang perempuan karena berambut panjang dan postur badan yang seperti perempuan, hal itu membuat Giga malah diberi ikan mas.
Lanjut ke kegiatan selanjutnya yaitu main sepuasnya di dam. Air di dam sangatlah jernih, disana juga tak ada ikan jadi aman bagi kami. Teman-teman yang lain bermain “ terjun-terjunan “ dari ketinggian kalau tak salah 10 meter. Aku takut loncat dengan ketinggian tersebut dan kolamnya agak dalam, aku juga belum pandai berenang jadi aku memutuskan untuk tidak ikut main terjun-terjunan.
***
Setelah kulitku menjadi keriput, gosong dan pastinya kuyup akhirnya kami pulang dengan baju yang berat, sementara jalanan pulang itu tanjakan, angin pun bertiup kencang, membuatku masuk angin.
Malampun tiba, badanku sudah segar setelah mandi, rasanya ingin langsung tidur sampai besok pagi, tapi kami masih belum boleh pergi kerumah inang, tempat yang akan kami tinggali nanti dan harus makan malam bersama di saung dulu.
Badanku sudah pegal-pegal, mata sudah meram-melek melulu akhirnya kami regu azalea yaitu Indri, Titan, Kayyisha dan aku sudah boleh pulang ke rumah inang. Ibu inang kami bernama ibu Eti, dia adalah seorang janda tua yang tinggal sendiri di rumahnya, ia bekerja sebagai petani, ibu Eti juga tidak bisa berbicara dengan bahasa Indonesia tapi mengerti arti-artinya, hal itu membuatku kesulitan saat berbicara dengan bu Eti ( aku satu-satunya yang bukan orang sunda di regu azalea ). Rumah bu Eti sangatlah sederhana, masih ada sumurnya, masih pakai tungku, masih pakai seterika arang dan masih pakai lampu pijar. Saat kerumah bu Eti, bu Eti juga mengundang tetangga lainnya lalu kami ngobrol bersama malam itu. Aku juga berkenalan dengan seorang anak perempuan bernama Ashila yang usianya kalau tak salah 4 tahun, dia juga ikut ngobrol dengan kami. Waktu menunjukan pukul 09.00 malam waktunya kami tidur.
Senin, 02 September 2019
Berkunjung ke Art Jakarta 2019
Bear with Embroidered oleh Tomoko Nagai
Dari banyaknya karya yang kulihat, ada satu yang kujadiikan sebagai karya favorit yaitu:
Jumat, 27 Juli 2018
Pulang ekspedisi/hari ke 5
20/7/2018
Pagi yang indah
Pagi pukul 05:30 aku bangun tidur. Begitu bangun tidur di luar sudah terang sekali karena matahari sudah terbit. aku langsung keluar dari tenda karena ingin ke toilet. Setelah bersih bersih aku mencuci tempat makan yang masih kotor sehabis di pakai makan semalam. Karena aku juga harus shalat aku segera shalat, kemudian langsung packing baju, dari kemarin aku sudah mulai packing jadi kali ini aku tidak kerepotan apalagi yang biasanya susah banget menutup resleting tas kali ini tidak. Setelah semua selesai packing waktunya bongkar tenda! Melipat tenda yang regu kami pakai sangat gampang karena ukurannya kecil. Setelah melipat tenda kami bermain sebentar, sembari bermain kami melihat kak Shanty, mentor kami membawa sebuah kantung berisi stik cumi yang akan dibagikan kepada kami semua. Tak lama kemudian setelah semua beres kami jalan menuju pangkalan kapal dekat tempat berkemah.
Pulang menuju Jakarta
Kapal sudah berhenti dengan sempurna di pangkalan kapal, waktunya untuk naik. Kapal yang kali ini kami gunakan adalah kapal kayu Dolphin Express. Karena menggunakan kapal kayu dan arus disini sangat kencang jadi di kapal berguncang sangat keras bahkan air laut nya masuk kedalam kapal. Tapi di kapal kayu ini banyak udara yang masuk jadi disana tidak panas. Waktu di kapal aku sempat hampir jatuh karena kapal bergoyang dengan kencang, kak Tata bahkan sempat terjatuh dan menggelindin! Sebelum nya aku sudah minum obat anti mabok jadi waktu di kapal tidak terlalu pusing. Angin menghembus kencang, arus juga sedang kencang sementara yang di dalam kapal sudah oleng. Kapal yang satu ini langsung berangkat ke Jakarta kapal ini hanya transit di p.karya dan p.pramuka.
Sampai di pelabuhan kali adem
Sesampainya disana kami langsung turun dari kapal dan naik bus dari pelabuhan kali adem menuju stasiun kota. Waktu kami akan berangkat menggunakan bus ternyata supir nya masih makan siang padahal ini masih pukul 10:00 rajin banget supir nya. Karena di luar sangat panas jadi kami meminta supir nya membukakan pintu bus, tapi pak supir malah marah. Akhirnya setelah keringat ku bercucuran pintu bus pun di buka tapi belum bisa masuk. Kira kira 5 menit kemudian kami baru boleh masuk. Setelah itu kami berangkat menuju st. Kota. Sampai disana aku bertemu orangtuaku sedang menunnggu aku dan kak Dinda pulang. Alhamdullilah, perjalanan eksplorasi yang seru berakhir disini.
Hari ke 4
19/7/2018
Pagi hari yang lebih baik
Pukul 05:30 aku sudah bangun tidur. Setelah itu aku shalat subuh di depan tenda dublob ( reguku ) lalu aku mengerjakan logbook bersama teman teman. Melihat teman temanku yang sedang revisi membuat diriku semangat membuat logbook yang lebih baik. Karena disuruh nanti saja revisinya jadi aku lihat logbook yang lain dulu salah satu nya milik kak Dinda. Setelah membetulkan logbook ku aku datang ke kak Meli dan report logbook nya. Awal nya kak Meli mengembalikan buku ku, kukira aku tak di suruh revisi ternyata semua di suruh revisi semua kecuali kak Dinda, Kaysan dan Trisha. Akhirnya setelah revisi kami boleh main air di laut! Bermain di laut p.karya sangat seru' serasa kayak menyelam melihat banyak karang laut ikan ikan dan air yang masih jernih membuatku ingin terus berenang disini.
Bermain air sangat lama
Hari ini kami berenang sangat lama. ini hari yang paling seru saat bermain air. Kami menghabiskan waktu lama untuk bermain air, sekitar 8 jam! Jari jariku keriput sekali sampai ada bagian yang terbelah kulit nya. Bagaimana sih rasanya disana? Sangat seru kami dapat melihat ikan yang bercorak corak ada juga yang berwarna hijau bahkan merah muda! Mereka semua dapat ditemukan di balik rumput laut dan karang karang. Ada juga klomang dengan rumah yang sangat indah, biasanya klomang klomang besar mendapatkan cangkang yang bagus karena rata rata kerang yang ukurang nya lebih besar wujud nya lebih bagus, ini hasil pengamatan ku. disana juga banyak bulu babi ( bukan bulunya Babi tapi hewan bulu babi ) mungkin selama ini kita melihat bulu babi berwarna hitam? Ya betul itu sangat sering kita temui tapi aku menemui bulu babi yang belum pernah ku lihat sebelum nya: motif nya belang belang, ukuran nya lebih kecil dan jarang ditemukan. Tapi tetap saja kedua nya sama sama tajam! Jadi harus hati hati ketika bermain ke laut. Aku juga punya permainan seru disana yaitu melempar batu pipih. Mungkin untuk yang belum tahu ini adalah permainan biasa, tapi permainan ini sangat menantang karena kita harus melempar batu pipih dan lemparan itu bisa mental lagi! Ini sangat meyenangkan. Oh ya ada 2 lagi yang belum ku ceritakan tapi salah satunya adalah kak Opal ( mentor kami ) ini adalah pertama kali nya aku melihat kak Opal ceria dan bahagia. Waktu kami sedang bermain loncat loncatan ( loncat dari sebuah saung yang letaknya di tengah laut ) kak Opal juga ingin ikut. semua menunggu kak Opal loncat, sayang nya saat kak Opal loncat sebagaian besar anak2 tidak melihat. Selain itu aku juga bermain dengan kelomang lho! Saat di kapal Sanus, Kami melihat tayangan sinetron dengan adegan adegan yang kocak. kebetulan kami punya sesuatu yang bisa dimainkan yaitu kelomang, cerita nya kelomang kelomang ini sedang manjadi aktor sinetron. Sinetron kelomang ini kami beri judul " kelomang ke 3 " tapi karena air menyambar nyambar akhirnya kelomang-kelomang itu terbawa arus air. Setelah lama bermain air akhirnya kamipun kembali untuk mandi.
Masakkan kami enak!
Temanku Anja adalah jagoan memasak telor ceplok balado. Semua regu sangat menyukai masakan itu! Mereka juga menitipkan telur telur nya pada reguku untuk dimasak telor ceplok balado. Waktu memasak telur tersebut Anja terlalu banyak menuangkan minyak sehingga minyaknya menyiprat kemana mana dan telur nya ber busa busa.
Makan malam nikmat
Malam ini kami makan makanan enak hasil karya semua regu. regu Dublob memasak telur ceplok balado, regu anjing laut memasak nasi putih, regu Putri duyung memasak sup sayur dan regu garam laut memasak cumi. Alhamdullilah semua rasanya enak enak membuat perut kami bertambah kenyang. Malam nya tidur sangat lelap karena kekenyangan.
Hari ke 3 ekspedisi
18/7/2018
Siap siap
Pagi pagi aku sudah bangun tidur untuk shalat subuh. Setelah shalat subuh aku langsung ganti baju dan packing sebelum semua packing. Selesai packing aku istirahat sebentar lalu sarapan di rumah makan ibu Sani.
Berangkat menuju pulau Pramuka
Setelah sarapan dan beres-beres kami langsung jalan menuju pelabuhan p.Untung Jawa. Kami menunggu kapal kira kira 40 menit jadi Kami berangkat kesana pukul 10:00. Kapal yang kami gunakan adalah kapal SANUS. dari p.untung jawa menuju p.pramuka bisa menempuh waktu kira kira 1 setengah jam. Selama di kapal kami bermain TOD dan tidur, waktu tidur aku sempat ngiler dan untung nya tidak bau jadi tidak mengganggu aktivitas ku.
Sampai di pulau Pramuka
Sesampainya di p.Pramuka kami shalat dzuhur dulu lalu makan siang di food court p.pramuka. Aku suka dengan food court disini karena tempat nya seperti saung yang ada di atas tepi laut. Makanan disana juga enak enak! Habis makan teman temanku belanja bahan sementara aku kekenyangan makan makanan dengan porsi yang sangat banyak. Ketika semua sudah siap kamipun berangkat menuju pulau karya!
Keindahan laut di pulau Pramuka dan pulau Karya
Air laut begitu jernih, angin menghembus kencang, ikan ikan menyapa kami dan udara sangat mendukung membuat aku bersemangat menjelajah! Air disana sangat biru bahkan kami dapat menemukan ikan dan karang yang warana nya sangat indah, aku semakin terpesona melihat keindahan alam ini!
Sampai di pulau karya
Sampai di pulau karya kami jalan lagi menuju camping ground nya, lalu kami mulai bangun tenda. Setelah bangun tenda aku melihat temanku Kak Katya sedang membawa stik sambil mengelilingi tenda. Ternyata dia sedang membuat protector tenda, aku juga ingin seperti itu akhirnya aku bikin protector menggunakan pinus. Menurutku pinus itu agak tajam jadi 80% melindungi tenda kami dari predator yaitu: regu lain.
Masak nasi gagal
Ini adalah cerita menyedihkan ( bagiku ) tentang nasi liwet yang gagal. Mungkin judulnya terdengar biasa saja tapi dibalik cerita ini ada sesuatu yang menyesakkan. Waktu kami masak nasi kami tidak tahu beras seperti apakah yang reguku pakai kami kira semua beras sama cara masaknya tapi beras yang satu ini beda. Memasak nasi ini menghabiskan waktu kira-kira 30 menit hanya untuk merebus nya, kami sudah menghabiskan air 3 liter dan gas sampai setengahnya. Kalau nasi nya dimakan rasanya seperti yang didalam masih keras tapi bagian luar nya sudah lembek jadi tekstur nya kriuk kriuk.
Malas makan
Nasi nya gagal membuat regu kami malas makan dan akhirnya ikut makan makanan regu lain. Aku makan sop jagung bikinan regu putri duyung dan cumi bikinan regu garam laut.
Hari ke 2 ekspedisi
17/7/2018
Pagi hari
Pagi pukul 04:00 aku sudah bangun karena semalam aku tidur lebih awal. Setelah itu aku shalat subuh berjamaah di mess BKSD sehabis shalat subuh aku dan beberapa temanku bermain tepuk nyamuk ( bukan nepukin nyamuk tapi permainan ini menepuk kartu yang sama ) karena permainannya agak berisik jadi kami istirahat kembali, takut mengganggu warga sekitar.
Susur pantai pulau Rambut
Kami kembali lagi ke pulau rambut karena kami akan susur pantai. Sebelum susur pantai kami menunggu bapak pembina dulu, sambil menunggu kami main air dulu. Karena tidak tahan melihat air anak laki-laki langsung nyebur ke pantai sampai baju mereka basah kuyub. Setelah semua kakak pembina sampai di pulau Rambut kami mulai siap-siap untuk susur pantai. Sebelum susur pantai kami evaluasi dulu karena disana banyak ikan-ikan berbahaya yang menyerupai karang-karang juga tidak boleh sembarangan menginjak sesuatu karena bisa saja makhluk itu beracun. Susur pantai di mulai! Kukira air nya cukup dangkal tapi tiba-tiba aku bertemu dengan air yang dalam. Karena aku memakai sepatu boots yang agak pendek jadi air lautnya masuk ke dalam sepatuku, air tergenang-genang di dalam sepatu, jalan menjadi berat karena kebanyakan air di dalam boots. Kak Adinda (kakak ku) memakai boots yang tingginya selutut jadi air tidak masuk kedalam sepatunya dan kak Dinda sendiri tidak ingin ada air masuk ke bootsnya walau pun akhirnya airnya masuk juga. Waktu susur pantai aku belajar banyak tentang menangkap ikan, mencari kerang yang masih hidup, tumbuhan apa saja yang bisa di konsumsi dan tidak nyampah. Selama di perjalanan kami menemukan banyak sekali benda hidup yang bentuk nya seperti luing, apa kah itu sebenarnya? Tak lama kemudian kami diberi tahu bahwa itu adalah Timun laut ( tidak bisa di makan ) tekstur nya kenyal dan licin warna nya hitam bentuk nya seperti timun, makhluk ini tidak beracun bila di sentuh. Kami juga menemukan sesuatu yang mirip dengan rumput laut yaitu Anggur laut bentuknya seperti anggur/ telur ikan yang rasanya asin. Kami juga di ajari cara menangkap ikan gabus, caranya seperti ini: biasanya ikan gabus suka berenang di dekat pohon Bakau dan disitu tempat dimana kita bisa menangkapnya. Ada cara unik untuk menangkapnya yaitu dengan membuat jebakan dari bambu! Karena ikan gabus suka bersembunyi di dalam bambu biasanya juga ada kepiting di dalamnya. Setelah susur pantai kami bakar ikan gabus hasil tangkapan kami, rasanya enak sekali tidak perlu di beri bumbu-bumbu lagi karena sudah mengandung air laut. Sehabis makan kami bersih pulau, disana banyak sekali sampah. Setelah semua selesai kami main air karena sedang menunggu perahu menjemput kami.
Wawancara warga di pulau Untung Jawa
Kami semua di beri tugas untuk mewawancarai warga pulau Untung Jawa minimal 1 orang. Waktu sedang mencari orang untuk di wawancara aku berpapasan dengan anak-anak PEKBM36 yang seharian sebelumnya kami temui dan mereka menyapaku.
Mereka: kakak yang kemarin ke PKBM kan?
Kami: iya!
Pertanyaan mereka untuk kami:
Mereka: kak cowok yang ganteng itu nama nya siapa sih?
Kami: yang mana ya?
Mereka: itu lho yang pakai tas biru
Kami: tas biru yang mana banyak yang pakai tas warna biru?
Mereka: (bingung mau jawab apa)
Mereka: itu lho kak yang rambut nya diginiin (sambil menunjukan rambut nya di balik)
Kami: oh itu dia nama nya Fakhri
Mereka: oooooo gitu.....
Lalu mereka bertanya lagi,
Mereka: kak katanya kakak orang kaya ya?
Kami: (kaget dengar pertanyaan itu)
Kami kaget mendengar pertanyaan itu, entah kenapa mereka mengira kalau kami orang kaya. Mungkin mereka melihat tas kami yang besar besar. Tapi untung Kak Tata, segera menjawab,
Tata: tau dari mana hayyooo??? (seingat ku di bilang begitu)
Mereka: eeeeeee???
Kami: kita semua biasa bisa saja kok'
Lalu tiba tiba mereka bertanya lagi:
Mereka: kak kakak yang cantik itu nama nya siapa sih?
Kami: yang mana?
Mereka: itu yang rambut nya warna ungu
Padahal tak satupun yang memiliki rambut berwarna ungu,
Kami: yang rambut nya warna merah kali?
Mereka: iya!
Sebenarnya ada 2 orang yang memiliki rambut warna merah yang satu namanya Ceca dan satu lagi namanya Michelle. Ceca sedang bersama kami dan Michelle sedang pergi.
Kami: Michelle?
Mereka: ya mungkin?
Kemudian kami pamit, aku bertemu Kak Ratri yang sedang bermain dengan anak sebaya denganku karena aku juga ingin mewawancara mereka jadi aku lari ke arah Kak Ratri. Sehabis itu kami mulai menanyai mereka. Aku berhasil mewawancarai 2 orang yaitu Shalu dan Anggun namanya.
Shalu
Shalu adalah seorang pelajar. Dia menyukai pelajaran matematika dan bahasa inggris. Sehari hari nya bermain dan belajar. Tinggalnya di pulau Untung Jawa bagian timur.
Anggun
Anggun adalah seorang pelajar. Dia suka menari dan pelajaran matematika.
Di marahin bapak bapak
Kami mengajak mereka pergi ke pulau Untung Jawa bagian barat / tempat mess kami berada. Sampai disana kami bermain lama sekali sampai hampir mahgrib. Kami bertanya kepada mereka "kalian nggak pada pulang? nggak dicariin orangtua kalian?" tapi mereka bilang mereka sudah izin jadi kami biarkan mereka bermain bersama. Tak lama kemudian azan mahgrib berkumandang kami bertanya lagi ke mereka "Kalian nggak pulang, kan udah mahgrib?!" tapi mereka bilang kalau mereka masih ingin bermain. Sehabis shalat mahgrib kami mengajak mereka makan malam bersama kami. Setelah kenyang dengan makan malam ini, tak lama ada seorang lake-laki datang pada mereka dan menyampaikan pesan bahwa mereka di cari oleh orangtuanya. Anak-anak itu langsung berlari ke arah timur mendengar pesan itu. Karena kami semua sudah selesai makan jadi kami kembali lagi ke mess, sesampainya di mess kami di hampiri oleh seorang bapak-bapak seram dan bilang "lihat anak anak tadi nggak yang main disini?" lalu kita jawab
"oh' tadi pada kesana" kami bingung karena mereka bilang kalau mereka sudah izin. Dengan marah bapak itu membalas "KALAU KAYAK GITU PADA DI SARANIN DONG!!!" kami kaget mendengarnya bicara dengan nada yang kasar. Setelah itu ia berbalik pulang ke arah timur.
Sabtu, 21 Juli 2018
Ekspedisi hari pertama
16/7/2018
Menuju Pulau Untung Jawa
Setelah beberapa hari mempersiapkan perlengkapan yang harus ku bahwa untuk perjalanan eksplorasi, akhirnya hari ini tiba. Aku dan kakak ku akan berangkat bersama teman-teman Penggalang Pramuka Oase pergi selama 5 hari 4 malam ke Kepulauan Seribu. Aku satu-satunya Siaga yang ikut, karena Kayyisha temanku akhirnya mengundurkan diri. Untung ada kakak ku jadi aku tidak merasa pergi sendiri.
Pagi-pagi aku sudah bangun tidur untuk shalat subuh dan siap-siap pergi ke pelabuhan Sunda kelapa. Pukul 05:20 aku sudah berangkat karena rumah ku jauh dan takut macet. Sesampainya di pelabuhan aku bertemu dengan teman teman yang sedang menunggu teman yang lain. Setelah semua datang, kami langsung naik ke kapal. Kapal yang kami gunakan adalah kapal Sabuk Nusantara 66, kapal ini bertujuan ke Kepulauan Seribu. Selain bermain dan berbincang kami juga diberi tugas oleh kakak mentor untuk mewawancarai penumpang kapal. Aku mewawancarai seseorang bernama mas Topan. Mas Topan adalah seorang pekerja di telkom. Datang ke Kepulauan Seribu untuk menyalurkan listrik. Lalu ku tanya lagi begini "Mas tujuan nya kemana?" Tapi mas Topan malah menjawab, "Saya sendiri juga nggak tahu." Lalu entah mengapa aku merasa bersalah mewawancarai mas Topan. Akhirnya sampai di pulau Untung Jawa! Sebelum kami pergi ketempat penginapan, kami berjalan-jalan ke PKBM36 dulu untuk istirahat. Sambil istirahat kami mendengarkan pak Aji, guru di PKBM36 memberi sambutan. Setelah itu kami berjalan lagi menuju mess BKSD (tempat penginapan kami) disana kamarnya Nyaman sekali. Karena kelelahan, kami membeli air kelapa di rumah makan ibu Sani. Air kelapanya segar dan enak sekali. Tak lama kemudian terdengar suara azan, waktunya shalat dzuhur! Setelah shalat dzuhur kami semua makan siang di rumah makan ibu Sani, aku makan nasi dengan ikan goreng yang membuatku kenyang.
Pergi ke pulau Rambut
Sera is makan siang kami pergi ke pulau Rambut untuk pengamatan burung. Di pulau Rambut sangat banyak burung. Awal nya aku tidak tertarik dengan perjalanan ini karena melewati pohon pohon yang telah mencolok-colok mataku, semut-semut yang menggigit ku, biawak dimana mana membuatku kesal! Tapi aku tidak boleh mengeluh di perjalanan ini maka aku harus bersabar menghadapi hal seperti ini. Lalu aku ingat kata ibu, hasil tidak akan menghianati proses, setelah bersusah payah berjalan lihat apa yang ku dapati! Sekarang aku berada di menara dengan ketinggian 20 meter! Sebenarnya aku takut, tapi aku members ikan diri. Menara ini diciptakan untuk melihat burung-burung. Kami melihat burung-burung dari teropong. Baru kali ini aku melihat banyak sekali burung berterbangan dan hinggap di pohon. Angin menghembus begitu kencang, keringat kami kering semua. Setelah itu kami juga pergi ke sebuah pendopo yang memang dibuat untuk melihat burung lebih jelas, lebih dekat dan lebih seru! Kami menemui banyak burung, dari bapak penjaga konservasi, aku diberi tahu Nama burung-burung itu: Ada Kepodang, Cangak Merah, Cangak Abu, Peregam, Pecuk Padi Hitam, Kacer dan Roko-Roko. Pengamatan burung selesai waktunya kembali lagi ke pulau Untung Jawa, sambil menunggu perahu yang menjemput, kami main air dulu. Perahu datang, waktu nya kembali ke pulau Untung Jawa.
Membuat lubang biopori
Di reguku aku adalah penanggung jawab sampah, jadi aku di beri tugas untuk membuat lubang biopori. Pasir di pulau Untung Jawa agak padat membuat aku sedikit kesulitan saat menggali. Karena aku sangat lama menggali, teman-temanku akhirnya ikut membantu. Kami bergantian menggali karena lubang biopori harus dibuat cukup dalam.
Tidur Hari Pertama
Kukira tidur di hari pertama ini akan tidak nyenyak, tapi karena tempat nya nyaman dan aku sudah ngantuk jadi aku tidur dengan nyenyak sekali.
Selasa, 03 Juli 2018
Jurnal olahraga
Jurnal olahraga
Tanggal. Aktivitas
27/6/2018. Jalan lebih dari 1 kilo
28/6/2018. Jalan lebih dari 1 kilo
29/6/2018. Ice skating
30/6/2018. Jalan lebi Dari 1 kilo
1/7/2018. Stretching , ice skating
2/7/2018. Jalan lebih dari 1 kilo
Jurnal memasak nasi tanpa rice coocker
Ini adalah salah satu cara untuk memasak nasi tanpa rice coocker yaitu dengan cara di bawah ini !
Menu: nasi liwet
Bahan bahan :
Garam ( secukupnya )
Merica ( secukupnya )
Beras 2 gelas
Air
Pakcoy
Sereh
Bawang Putih 3 siung
Daun salam
Ikan teri
Cara memasak:
Iris tipis bawang putih lalu cuci pakcoy sampai bersih, cuci beras lalu rebus dengan api kecil . Masukan bawang kedalam panci. Setelah itu masukan semua bahan kecuali garam dan merica. Diamkan sampai air surut lalu berikan garam Dan merica secukupnya . Setelah itu nasi liwet sudah bisa di sajikan.







