Jumat, 30 Juli 2021
Jumat, 23 Juli 2021
Keseruanku mengikuti SC Eksplorasi
“Selama karantina di rumah, apa saja kegiatanmu?”
Selama karantina di rumah, sebagian besar kegiatanku sama seperti kegiatan sehari-hariku yaitu: menggambar, olahraga, main sama kucing, bantu ibu pekerjaan rumah, baca buku, ngobrol sama kakak dan masih banyak lagi. Dari semua kegiatan di rumah ada salah satu kegiatan yang menurutku sangat seru yaitu mengikuti “SC Eksplorasi”. ini kali kedua aku mengikuti Eksplorasi online, sebelumnya bernama “Eksplorasi pandemik”.
Apa yang dilakukan di SC Eksplorasi / Eksplorasi Pandemik?
Kegiatan yang dilakukan SC Eksplorasi kali ini adalah kegiatan eksperimen yang dilakukan secara online untuk anak berumur sebelas tahun keatas atau sudah bisa menghitung perkalian mengenai “Bagaimana cara menyebarnya penyakit endemik” Eksplorasi tersebut berbentuk games tentang “Menyampaikan pesan rahasia ke agen lain". Dalam eksperimen ini juga diperlukan banyak teman, aku suka dengan cara ini, aku jadi bersosialisasi dengan teman-teman yang kebanyakan belum kukenal!
Cara bermainnya sangat mudah! pastikan kamu sudah menyiapkan alat tulis seperti pensil dan kertas, gawai untuk berkomunikasi dan teman yang banyak, jangan lupa memilih satu pemain untuk dijadikan game master.
Sebelum memulai permainan kamu akan mendapatkan kode rahasia dari game master, kode tersebut berupa angka. Setelah game master memberi aba-aba games dimulai kamu harus segera bertukar kode dengan teman-temanmu sebanyak-banyaknya lewat telefon. Kalikan kodemu dengan kode temanmu. Usai dikali, hasilnya adalah kodemu saat ini.
Contoh:
kode milikmu: 3
kode milik temanmu: 0
3x0=0
maka kodemu saat ini adalah “0”
Catat kodemu di catatan yang sudah kamu tulis sebelum bermain.
seperti ini catatannya:
Saat bermain aku menelepon (jika tidak salah) 7 teman, sayangnya banyak yang tidak menjawab panggilanku dan aku juga ditelepon belasan teman. Rasanya seperti ditelepon pegawai telkom (ditelepon melulu nggak berhenti-berhenti).
Aku suka eksperimen ini karena bisa dilakukan di rumah secara online bersama teman-teman yang belum kukenal dan berasal dari berbagai macam tempat. Hal ini membuatku tidak bosan dengan Eksplorasinya walaupun ini kali kedua aku mengikuti Eksplorasi online. Belajar sambil bermain games dengan teman itu menyenangkan!
Aku jadi belajar bagaimana cara menularnya virus dan jadi lebih berani menghubungi/berinteraksi dengan orang yang belum kukenal. Selain itu aku senang karena kami diberi tugas membuat jurnal tentang kegiatan ini lalu diunggah di blog masing-masing.
Kini blogku terisi kembali setelah sekian lama aku tidak menulis, menulis jurnal membuatku mengingat, mencatat, mengamati,menulis dengan baik dan menemui kosa kata baru.
Terimakasih mentor-mentor SC Eksplorasi! aku belajar banyak dari permainan ini.
Selasa, 30 Juni 2020
ulik profesi unik - klub jelajah ilmu
Ulik profesi unik
Bunda Wulansary
seorang dosen dan petani oraganik yang membuka usaha bernama Zona Sehat dari Sidoarjo.
Berawal dari kegiatan sehari-hari yaitu bercocok tanam dan mengelola sampah, bunda Wulan jadi memahami tentang sampah organik dan kondisi pertanian di Indonesia.
Masalah:
1. kebanyakan pertanian di Indonesia dilakukan dengan cara yang tidak alami, contohnya menggunakan pupuk kimia.
2. Kurangnya lahan dan petani.
Solusi:
Menggerakan banyak orang menjadi petani organik dan membangun usaha sumber pangan yang aman dan sehat.
Dimulai dari rumah, bunda Wulan bersama beberapa tetangganya menanam tanaman pangan dihalaman rumah untuk usahanya yang bernama 'Zona sehat' yaitu usaha sumber pangan. Tak hanya itu bunda Wulan juga bekerjasama dengan petani-petani organik dari berbagai macam tempat seperti Trawas, Malang dan nganjuk. Dari sini kak Wulan menyerap produk petani lokal dan mendorong para petani untuk beralih ke Organik.
Bunda Nina
owner warung 'Semi isi ulang' dan 'Kopiiyeko' dari bekasi.
Berawal dari kegiatan rumah tangga seperti mengurus sampah, mengompos, memasak, bersih-bersih rumah dan lain sebagainya, bunda Nina sadar masih sering menghasilkan sampah dari kemasan sekali pakai, hal itu membuat bunda Nina bertekat untuk diet sampah dengan mulai mengurangi sampah, mengatur pola makan, mengganti bahan pembersih dan menghindari kemasan satuan. Bunda Nina menemukan masalah-masalah kecil seperti...
Masalah:
Saat ini hampir semua produk pangan yang dijual di pasar maupun di supermarket menggunakan kemasan sekali pakai. Karena itu, bunda Nina kesulitan membeli makanan tanpa kemasan. Tak hanya itu keluarga bunda Nina juga menyukai minuman kopi namun memiliki masalah yang sama saat membelinya, selalu saja dikemas sekali pakai.
Solusi:
Membangun usaha isi ulang kebutuhan sehari-hari rumah tangga dan juga kedai kopi zerowaste.
Warung isi ulangnya yang bernama 'Semi' menjual beberapa kebutuhan sehari-hari rumah tangga seperti sabun, lerak, madu, bumbu dapur dan perlengkapan zerowaste lainnya. Di warung isi ulang milik bunda Nina ini kita dapat membeli produk dengan kemasan yang kita bawa sendiri. Semi juga tidak memiliki toko seperti bulkstore, biasanya bunda Nina berjualan di bazar-bazar.
Sementara di kopiiyeko kita dapat membeli kopi satu liter dengan gelas kaca yang bisa di isi ulang. Tak hanya kopi, disini juga menjual es kokoa.
Bunda Vebrina
owner Kirin kimbap restoran Korea halal di Malang sejak 2012.
Masalah:
Banyak anak muda yang ingin mencicipi masakan Korea, sayangnya kebanyakan restoran Korea mengandung bahan yang tidak halal.
Solusi:
Bunda Rina membangun usaha restoran Korea yang semua bahannya halal (Sudah terverifikasi MUI) dan harganya terjangkau.
Bunda Rina juga menjual frozen food dan bahan makanan Korea yang bisa delivery, wadahnya bisa dikembalikan lagi dan akan mendapatkan bonus satu makanan dari Kirin kimbap.
Saat masa pandemi restoran bunda Rina tetap buka juga mempekerjakan karyawannya kecuali pekerja part time.
Aku jadi belajar, dari masalah sehari-hari yang kita alami bisa diselesaikan dengan segala hal yang kita miliki hingga menjadi sebuah profesi yang dapat membantu banyak orang disekitar kita.
Selasa, 09 Juni 2020
Rahasia Dibalik Gambar (last)
Rahasia Dibalik Gambar Pertemuan terakhir kelas “Rahasia dibalik gambar” diadakan kemarin pada tanggal (08/06/20).
Seperti biasa, kegiatan pembuka atau kegiatan pertama akan selalu berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya, kali ini kakak mentor Jaladwara memberi kami tugas untuk memilih satu wajah orang dari lukisan "The Saint Nicholas Feast" karya Jan Havicksz lalu diamati dan di analisa “Kira-kira ekspresi orang ini sedang kenapa ya?” Menurutku lukisan ini menggambarkan tentang ‘kumpul keluarga’. Aku memilih orang dengan ekspresi yang sepertinya sedang mengantuk. Terlihat dari raut wajahnya, orang ini sedang menguap dipojokan. Mungkin dia lelah setelah berkumpul dengan keluarganya.
Lanjut gambar kedua!
Setelah kuamati selama satu menit, menurutku gambar yang dibagikan kakak mentor ini menceritakan tentang orang-orang yang ramai mengelilingi mobil pickup yang berisi sembako di salahsatu desa yang terletak di Indonesia. Alasanku menceritakannya seperti ini adalah:
1. Digambar ini terdapat ruma-rumah dengan atap seng dan dinding kayu, menurut pengalamanku saat aku pergi ke desa, aku banyak menemui rumah-rumah seperti ini.
2. Dimobil pickup ada banyak wadah-wadah, kemungkinan besar wadah-wadah ini berisi sembako.
3. Pemandangan digambar ini jelas sekali kalau tempatnya ada dipegunungan atau puncak
4. Tampang orang-orang digambar ini seperti orang Indonesia bagian timur.
3. Pemandangan digambar ini jelas sekali kalau tempatnya ada dipegunungan atau puncak
4. Tampang orang-orang digambar ini seperti orang Indonesia bagian timur.
Beberapa teman-temanku juga bilang kalau gambar ini diambil di Nusa Tenggara Timur karena salahsatu orang mengenakan seragam sekolah bertuliskan “SMPN 1 Ndona” dan aku setuju dengan pendapat tersebut.
Gambar ketiga
“Hah gambar apani?” Gumamku.
Gambar ketiga ini menurutku sulit untuk mendeskripsikannya. Gambarnya agak menyeramkan seperti sedang perang.
Kalau dari opiniku, gambar ini menceritakan tentang demo menggunakan obor yang membuat mata orang-orang kelilipan karena serbuk api juga kayu berterbangan dan lokasinya terletak di Indonesia.
“Hah gambar apani?” Gumamku.
Gambar ketiga ini menurutku sulit untuk mendeskripsikannya. Gambarnya agak menyeramkan seperti sedang perang.
Kalau dari opiniku, gambar ini menceritakan tentang demo menggunakan obor yang membuat mata orang-orang kelilipan karena serbuk api juga kayu berterbangan dan lokasinya terletak di Indonesia.
Alasan aku beropini seperti ini karena:
1. Orang-orang dalam gambar nampak seperti orang Indonesia.
2. Ekspresi orang-orang digambar ini bagaikan orang kelilipan.
3. Banyak sekali rombongan orang-orang dijalanan membawa obor, dari sini aku menyimpulkan kalau ini sedang demo.
2. Ekspresi orang-orang digambar ini bagaikan orang kelilipan.
3. Banyak sekali rombongan orang-orang dijalanan membawa obor, dari sini aku menyimpulkan kalau ini sedang demo.
Kebanyakan teman-temanku memberi bocoran tentang apa yang terjadi dalam gambar tersebut. Katanya gambar ini mejelaskan tentang perang api di pulau Bali, sayang sekali kali ini teman-teman mencoba googling sebelum kegiatan selesai dan diberitahu mengenai rahasia dibalik gambar ini. Jadi tidak begitu mengejutkan saat tahu rahasia gambar ini.
Aku suka dengan kegiatan ini, aku belajar banyak hal darisini salahsatunya yang sangat terasa bagiku adalah lebih menghargai pendapat orang lain, bersabar menunggu dan tentunya lebih jeli dalam mengamati.
Jumat, 05 Juni 2020
Mengulik Rahasia Dibalik Gambar
"Teman-teman ayok gabuuung!"
Panggil kak Rinta mentor Jaladwara dari grup chat.
Kemarin (04/06/20) aku mengikuti pertemuan online kedua games 'Rahasia diBalik Gambar'. Pertemuan kali ini tak jauh berbeda dengan yang pertama, tugasnya adalah 'mengamati menggunakan panca indera dan meginterpretasikannya' hanya saja kami tidak menggambar seperti sebelumnya.
Gambar pertama
Dari ponselku terlihat kak Meli sedang melakukan screen sharing gambar lukisan klasik yang tidak kuketahui judulnya juga ceritanya (sengaja tidak diberitahu oleh kakak mentor). Setiap orang harus memilih satu objek dari lukisan itu lalu mendeskripiskannya dengan panca indera.
Aku memilih satu objek yaitu: pilar berbentuk seorang wanita. Aku rasa ini akan mudah untuk menjelaskannya kerena bagiku objek ini familiar.

Dari apa yang kuamati, menurutku pilar-pilar ini terbuat dari abu vulkanik yang dicampur dengan air laut dan batu, teksturnya mulus tapi tidak licin, tingginya mungkin sekitar 12 meter, aromanya seperti batu atau pasir dan suhu pilar ini mengikuti suhu udara. Contoh: jika udaranya sedang panas, pilar akan menjadi hangat.
Gambar kedua
*bukan gambar yang dibagikan kak mentor tapi kurang lebih seperti ini:
Sama seperti sebelumnya, kami tidak diberi tahu cerita dibalik gambar yang dibagikan. Menurutku gambar itu menceritakan tentang festival budaya/hari raya yang diadakan dinegara Cina, dilihat dari wajahnya yang memiliki mata sipit, pakaiannya yang bertulisan bahasa mandarin dan benda-benda disekelilingnya merupakan khas Cina, misalnya: gong dan dupa.
Gambar ketiga
*bukan gambar yang dibagikan kak mentor tapi kurang lebih seperti ini:
Dibiarkan bebas beropini dengan gambar yang ditunjukkan, kalau opiniku gambar ini menceritakan tentang kuda yang mengamuk saat perlombaan pacuan kuda tradisional di India. Dari yang kulihat, wajah orang-orang digambar ini persis orang India selain itu di India sendiri memang ada perlombaan pacuan kuda tradisional.
Usai bermain games ini, aku merasa penting sekali untuk mengamati secara detil dan teliti agar tidak salah menganalisa.
Panggil kak Rinta mentor Jaladwara dari grup chat.
Kemarin (04/06/20) aku mengikuti pertemuan online kedua games 'Rahasia diBalik Gambar'. Pertemuan kali ini tak jauh berbeda dengan yang pertama, tugasnya adalah 'mengamati menggunakan panca indera dan meginterpretasikannya' hanya saja kami tidak menggambar seperti sebelumnya.
Gambar pertama
Dari ponselku terlihat kak Meli sedang melakukan screen sharing gambar lukisan klasik yang tidak kuketahui judulnya juga ceritanya (sengaja tidak diberitahu oleh kakak mentor). Setiap orang harus memilih satu objek dari lukisan itu lalu mendeskripiskannya dengan panca indera.
Aku memilih satu objek yaitu: pilar berbentuk seorang wanita. Aku rasa ini akan mudah untuk menjelaskannya kerena bagiku objek ini familiar.

Dari apa yang kuamati, menurutku pilar-pilar ini terbuat dari abu vulkanik yang dicampur dengan air laut dan batu, teksturnya mulus tapi tidak licin, tingginya mungkin sekitar 12 meter, aromanya seperti batu atau pasir dan suhu pilar ini mengikuti suhu udara. Contoh: jika udaranya sedang panas, pilar akan menjadi hangat.
Gambar kedua
*bukan gambar yang dibagikan kak mentor tapi kurang lebih seperti ini:
Sama seperti sebelumnya, kami tidak diberi tahu cerita dibalik gambar yang dibagikan. Menurutku gambar itu menceritakan tentang festival budaya/hari raya yang diadakan dinegara Cina, dilihat dari wajahnya yang memiliki mata sipit, pakaiannya yang bertulisan bahasa mandarin dan benda-benda disekelilingnya merupakan khas Cina, misalnya: gong dan dupa.Gambar ketiga
*bukan gambar yang dibagikan kak mentor tapi kurang lebih seperti ini:
Dibiarkan bebas beropini dengan gambar yang ditunjukkan, kalau opiniku gambar ini menceritakan tentang kuda yang mengamuk saat perlombaan pacuan kuda tradisional di India. Dari yang kulihat, wajah orang-orang digambar ini persis orang India selain itu di India sendiri memang ada perlombaan pacuan kuda tradisional.Usai bermain games ini, aku merasa penting sekali untuk mengamati secara detil dan teliti agar tidak salah menganalisa.
Selasa, 02 Juni 2020
Pecahkan Rahasia Dibalik Gambar
Pernah nggak mencoba memecahkan misteri dibalik gambar?
Kemarin (01/06/20) aku mengikuti kegiatan online yang diadakan oleh Jaladwara bersama teman-teman dari berbagai kota. Kegiatan ini tentang mengulik rahasia dibalik gambar.
Lewat videocall, kakak mentor Jaladwara yaitu: kak Inu, kak Meli dan kak Rinta membagi sebuah gambar lukisan yang bernama "The Dancing Lesson" karya Jan Havicksz.
kami ditugaskan untuk mengamati dan menggambar salah satu objek yang bertekstur dari lukisan tersebut dengan waktu selama satu menit, misalnya teksturnya licin atau berbulu.
Aku memilih satu objek yang mungkin itu adalah sebuah alat musik atau panci, (aku tidak tahu pastinya) dengan tekstur licin. Aku menggambarnya dengan pensil diatas kertas.
Setelah selesai menggambar kami lanjut ke aktivitas berikutnya yakni: mengamati foto.
Kami diberi kesempatan untuk berbagi opini tentang apa yang terjadi dibalik foto itu. Kalau opiniku foto ini menceritakan tentang orang-orang yang berada di tangga darurat apartemen sedang terjebak dalam kebakaran. Kenapa begitu? Terlihat dari raut wajah mereka yang sedang cemas dan juga membawa banyak barang seolah akan mengungsi. Bayangkan jika mereka berada dilantai dua lalu lantai tiga dan satu sudah terbakar api, mereka pasti akan terjebak dilantai dua.
Ternyata cerita dibalik foto tersebut mirip dengan opiniku yaitu: terjebak di tangga darurat karena adanya badai.
Lanjut foto kedua, sama seperti sebelumnya kami dibiarkan beropini.
Menurutku ini menceritakan tentang: orang-orang di Arab yang akan berbuka puasa dilapangan luas, karena terlalu banyak orang, sehingga harus diperluas sampai parkiran mobil.
kakak-kakak Jaladwara tidak menceritakan tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam foto ini karena tidak banyak keterangan dari fotografer tersebut, hanya tempat kejadian yaitu di Dubai.
Aku suka dengan games ini, aku jadi belajar mengamati dan menganalisa. seperti arkeolog hehehe.
Kamis, 16 April 2020
Jurnal Reflexi Oase Term 1 2020
Tak terasa sudah akhir term pramuka Oase. Aku sudah mengikuti workshop-workshop seru seperti workshop multilateral, art, mojo dan travel journaling. Dari keempat workshop ini yang paling kusukai adalah workshop multilateral dan travel journaling, saat workshop multilateral kegiatan diadakan di jogging track yang luas dan teduh, kami juga dibimbing oleh coach Oki yang ramah dan asik jadi aku tidak bosan selama kegiatan berlangsung. aku sangat senang dengan workshop ini, aku jadi belajar tentang bagaimana cara pemanasan juga lari dengan baik dan benar selain itu aku merasa lebih sehat dan ceria! Sedangkan workshop travel journaling, aku semangat karena aku ingin tau mengenai tips-tips journaling yang menarik dan seru. Mentor travel journaling kami yaitu kak Anne menjelaskan dengan cara yang mudah dimengerti sehingga aku langsung paham dengan materinya (aku orangnya agak sulit untuk mengerti penjelasan yang panjang dan lebar).Aku jadi ingin bikin jurnal dan blogging walaupun belum rajin hehehe.
Harapanku kedepan akan pramuka Oase adalah Kalau wabah Corona sudah mereda aku ingin Oase lebih banyak beraktivitas diluar Vinoti living dan ada kegiatan cooking class.
Harapanku kedepan akan pramuka Oase adalah Kalau wabah Corona sudah mereda aku ingin Oase lebih banyak beraktivitas diluar Vinoti living dan ada kegiatan cooking class.
Minggu, 08 Maret 2020
Tantangan menuju Wide Games
Kemarin tanggal 7 maret aku mendapatkan beberapa tantangan seru dari kakak-kakak mentor penggalang di Klub Oase.
Kakak-kakak mentor sedang mengadakan permainan seru untuk para penggalang Pramuka Oase yang dinamakan 'Wide Games'.
Ini adalah tiga tantangan yang diberikan oleh mentor:
1. Mana saja stasiun KRL/MRT/halte Transjakarta yang termasuk wilayah Jakarta?
Jawaban:
MRT:
- Senayan
- Dukuh atas
- Istora
- Setia budi
- Bunderan HI
- Blok M
- Benhil
- Blok A
2. Apa saja dari tiga kendaraan umum yang menjadi pilihanmu untuk Wide Games dan kenapa?
Jawaban:
Transjakarta, KRL dan Angkot
Alasan:
- rumahku cukup dekat dengan halte Transjakarta, jadi lebih mudah menaik bis.
- stasiun KRL di Jakarta ada banyak jumlahnya, saat melakukan Wide Games KRL menjadi pilihan utama.
- mirip seperti stasiun KRL, angkot juga ada dimana-mana, bisa jadi alternatif selain menggunakan bis dan kereta.
3. Dimana saran titik START dan FINISH yang enak menurut kamu untuk menjelajah Jakarta agar bisa menemukan 5 tempat yang asyik dan satu monumen untuk dikunjungi?
Jawaban:
Start: Stasiun Kota
Alasan:
- dekat dengan beberapa tempat seperti:
Kota Tua, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia juga monumen seperti Monas. Didepan Stasiun Kota ada halte Transjakarta dan bis tingkat juga banyak angkot, akan lebih mudah berpergian dengan kedua kendaraan umum tersebut.
Finish: Stasiun Cawang
Alasan:
- dekat dengan kantor ayahku, jadi ayah bisa menjemputku darisana, selain itu arah Stasiun Cawang juga ke arah rumah beberapa temanku.
Kakak-kakak mentor sedang mengadakan permainan seru untuk para penggalang Pramuka Oase yang dinamakan 'Wide Games'.
Ini adalah tiga tantangan yang diberikan oleh mentor:
1. Mana saja stasiun KRL/MRT/halte Transjakarta yang termasuk wilayah Jakarta?
Jawaban:
MRT:
- Senayan
- Dukuh atas
- Istora
- Setia budi
- Bunderan HI
- Blok M
- Benhil
- Blok A
2. Apa saja dari tiga kendaraan umum yang menjadi pilihanmu untuk Wide Games dan kenapa?
Jawaban:
Transjakarta, KRL dan Angkot
Alasan:
- rumahku cukup dekat dengan halte Transjakarta, jadi lebih mudah menaik bis.
- stasiun KRL di Jakarta ada banyak jumlahnya, saat melakukan Wide Games KRL menjadi pilihan utama.
- mirip seperti stasiun KRL, angkot juga ada dimana-mana, bisa jadi alternatif selain menggunakan bis dan kereta.
3. Dimana saran titik START dan FINISH yang enak menurut kamu untuk menjelajah Jakarta agar bisa menemukan 5 tempat yang asyik dan satu monumen untuk dikunjungi?
Jawaban:
Start: Stasiun Kota
Alasan:
- dekat dengan beberapa tempat seperti:
Kota Tua, Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia juga monumen seperti Monas. Didepan Stasiun Kota ada halte Transjakarta dan bis tingkat juga banyak angkot, akan lebih mudah berpergian dengan kedua kendaraan umum tersebut.
Finish: Stasiun Cawang
Alasan:
- dekat dengan kantor ayahku, jadi ayah bisa menjemputku darisana, selain itu arah Stasiun Cawang juga ke arah rumah beberapa temanku.
Misteri baskom bergerak
"Hah....Baskomnya kok gerak-gerak sendiri?"
Saat sedang berkunjung ke Pantai Pangumbahan aku terheran-heran melihat ada baskom yang ditutup dengan kain bergerak sendiri bahkan terdengar sesuatu didalamnya. Walau penasaran, tapi aku melanjutkan berkeliling di pantai tersebut.
Tujuanku pergi ke Pantai Pangumbahan adalah untuk melihat penyu karena pantai ini adalah area konservasi penyu.
Setiap malam Pantai Pangumbahan didatangi penyu-penyu yang akan bertelur. Karena saat itu masih sore, aku harus menunggu beberapa jam. Beruntung aku diberitahu ada jadwal pelepasan tukik di pantai.
"Eh, itu kan... baskom yang bergerak-gerak tadi?!"
Mereka terlihat menggemaskan. tubuhnya sangat kecil sekitar tiga inci berwarna abu-abu, kalau jalan lucu sekali! dengan tangannya yang tipis, berusaha mengangkat seluruh badannya maju sambil terburu-buru.
Sore itu aku beruntung dapat ikut melepas tukik di pantai.
Malamnya aku menyaksikan Penyu Hijau bertelur. telurnya banyak sekali, ada ratusan jumlahnya, ukurannya sebesar bola pimpong. Sesudahnya, seluruh telur dikumpulkan kedalam baskom lalu akan dikubur di tempat penetasan telur penyu.
Saat sedang berkunjung ke Pantai Pangumbahan aku terheran-heran melihat ada baskom yang ditutup dengan kain bergerak sendiri bahkan terdengar sesuatu didalamnya. Walau penasaran, tapi aku melanjutkan berkeliling di pantai tersebut.
Tujuanku pergi ke Pantai Pangumbahan adalah untuk melihat penyu karena pantai ini adalah area konservasi penyu.
Setiap malam Pantai Pangumbahan didatangi penyu-penyu yang akan bertelur. Karena saat itu masih sore, aku harus menunggu beberapa jam. Beruntung aku diberitahu ada jadwal pelepasan tukik di pantai.
"Eh, itu kan... baskom yang bergerak-gerak tadi?!"Seorang petugas konservasi penyu membawa baskom yang tadi membuatku penasaran. Ia membawanya kepinggir pantai sambil memanggil orang-orang mendekat. Tak lama ia membuka kain penutupnya lalu terlihatlah isi baskom tersebut. Tukik-tukik kecil berebut naik keatas baskom
Mereka terlihat menggemaskan. tubuhnya sangat kecil sekitar tiga inci berwarna abu-abu, kalau jalan lucu sekali! dengan tangannya yang tipis, berusaha mengangkat seluruh badannya maju sambil terburu-buru.
Sore itu aku beruntung dapat ikut melepas tukik di pantai.
Malamnya aku menyaksikan Penyu Hijau bertelur. telurnya banyak sekali, ada ratusan jumlahnya, ukurannya sebesar bola pimpong. Sesudahnya, seluruh telur dikumpulkan kedalam baskom lalu akan dikubur di tempat penetasan telur penyu.Sabtu, 30 November 2019
Explorasi 2019 hari ke-4
Hari ke-4
Suara adzan berkumandang, kami semua terbangun dari mimpi, tapi dalam posisi masih terbaring di ubin, satu-persatu mulai melangkahkan kaki ke toilet, shalat dan mencuci sandal yang sehari sebelumnya bertumpuk dengan tanah. kejadian mirip seperti kemarin, kami telat Berangkat ke saung untuk refleksi lagi karena mencuci sandal dulu, tapi sandal kami jadi sandal yang paling bersih di antara regu-regu lain.
Ke tempat pembuatan sotong
Kegiatan pertama hari ini adalah pergi ke tempat pembuatan sotong yang tempatnya cukup jauh dari rumah bu Eti maupun dari saung, disana tempatnya seru, besar, bersih dan sejuk. Kami diajari cara membuat sotong dengan karyawan disana, kami juga diberi kesempatan mencoba menggulung dan membakar sotong. Aku dan Kayyisha memiliki gulungan sotong yang rapi sehingga sotong buatan kami berdua disortir untuk dijual. Sayang sekali waktu aku mencoba Membakar adonan sotongnya, aku gagal, seharusnya berbentuk seperti pancake namun malah seperti obat nyamuk bakar.
Setelah berkunjung ke tempat pembuatan sotong Kami bersama regu-regu lain makan siang bersama di saung, dilanjutkan dengan belajar membuat angklung. Sayang sekali di kegiatan yang seru ini aku malah tertidur saking ngantuknya, tapi aku terbangun ditengah belajar main angklung. Ternyata bermain alat musik angklung itu seru!
Setelah rasa ngantukku pudar kami lanjut ‘Menangkap ikan’ di empang. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Regu putri lebih dulu menangkap ikan, hasil tangkapan regu-regu putri tak begitu banyak, sedangkan regu-regu putra mendapatkan ikan yang banyak karena ikanya sudah mabuk dan airnya juga sedikit menyurut, kalau ikannya mabuk dia akan mengapung jadi lebih mudah untuk ditangkap.
Waktu jalan pulang menuju rumah bu Eti tiba-tiba hujan deras. Aku sampai dirumah lebih dulu sementara Kayyisha, Titan dan Indri terjebak hujan deras di saung. Aku menunggu hujan reda di teras rumah bu Eti agar bisa mandi dengan reguku tapi ternyata mereka sedang asik main hujan-hujanan dengan yang lain. Jadilah aku masuk angin, untung Kayyisha dan Titan pulang lebih cepat, aku jadi bisa mandi lebih cepat.
Setelah mandi kami latihan bernyanyi bersama regu libra, regu libra menciptakan lagu dangdut koplo dan tim azalea sebagai ‘Backsoundnya’ tapi akhirnya mereka tak jadi tampil dikarenakan Alfar sedang sakit.
Pentas untuk kampung Zuhud
Malamnya kami akhirnya melakukan pentas di lapangan dekat saung. Di tengah lapangan juga dinyalakan api unggun dan disediakan makanan seperti ikan, sate kambing, nasi liwet dan banyak lagi. Regu azalea menjadi regu ke-3 yang tampil, saat tampil aku agak sedikit grogi hingga lupa lirik lagu. Alhamdulillah pentasnya berjalan lancar, selesai bernyanyi tubuhku langsung tenang setelah panik karena tegang. Sesudah itu aku briefing sedikit dengan regu taurus soal pentas mereka yaitu ‘Drama Malin kundang’ aku membantu mendirect sedikit dan juga styling. Regu taurus berhasil membuat ramai kampung Zuhud dengan tawa karena drama komedinya yang konyol. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Api unggun, sate kambing, nasi liwet, pentas dan banyak hal yang menjadi kenangan indah di kampung Zuhud. Malam terakhir di kampung Zuhud ini kami tutup dengan tidur.
Suara adzan berkumandang, kami semua terbangun dari mimpi, tapi dalam posisi masih terbaring di ubin, satu-persatu mulai melangkahkan kaki ke toilet, shalat dan mencuci sandal yang sehari sebelumnya bertumpuk dengan tanah. kejadian mirip seperti kemarin, kami telat Berangkat ke saung untuk refleksi lagi karena mencuci sandal dulu, tapi sandal kami jadi sandal yang paling bersih di antara regu-regu lain.
Ke tempat pembuatan sotong
Kegiatan pertama hari ini adalah pergi ke tempat pembuatan sotong yang tempatnya cukup jauh dari rumah bu Eti maupun dari saung, disana tempatnya seru, besar, bersih dan sejuk. Kami diajari cara membuat sotong dengan karyawan disana, kami juga diberi kesempatan mencoba menggulung dan membakar sotong. Aku dan Kayyisha memiliki gulungan sotong yang rapi sehingga sotong buatan kami berdua disortir untuk dijual. Sayang sekali waktu aku mencoba Membakar adonan sotongnya, aku gagal, seharusnya berbentuk seperti pancake namun malah seperti obat nyamuk bakar.
Setelah berkunjung ke tempat pembuatan sotong Kami bersama regu-regu lain makan siang bersama di saung, dilanjutkan dengan belajar membuat angklung. Sayang sekali di kegiatan yang seru ini aku malah tertidur saking ngantuknya, tapi aku terbangun ditengah belajar main angklung. Ternyata bermain alat musik angklung itu seru!
Setelah rasa ngantukku pudar kami lanjut ‘Menangkap ikan’ di empang. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Regu putri lebih dulu menangkap ikan, hasil tangkapan regu-regu putri tak begitu banyak, sedangkan regu-regu putra mendapatkan ikan yang banyak karena ikanya sudah mabuk dan airnya juga sedikit menyurut, kalau ikannya mabuk dia akan mengapung jadi lebih mudah untuk ditangkap.
Waktu jalan pulang menuju rumah bu Eti tiba-tiba hujan deras. Aku sampai dirumah lebih dulu sementara Kayyisha, Titan dan Indri terjebak hujan deras di saung. Aku menunggu hujan reda di teras rumah bu Eti agar bisa mandi dengan reguku tapi ternyata mereka sedang asik main hujan-hujanan dengan yang lain. Jadilah aku masuk angin, untung Kayyisha dan Titan pulang lebih cepat, aku jadi bisa mandi lebih cepat.
Setelah mandi kami latihan bernyanyi bersama regu libra, regu libra menciptakan lagu dangdut koplo dan tim azalea sebagai ‘Backsoundnya’ tapi akhirnya mereka tak jadi tampil dikarenakan Alfar sedang sakit.
Pentas untuk kampung Zuhud
Malamnya kami akhirnya melakukan pentas di lapangan dekat saung. Di tengah lapangan juga dinyalakan api unggun dan disediakan makanan seperti ikan, sate kambing, nasi liwet dan banyak lagi. Regu azalea menjadi regu ke-3 yang tampil, saat tampil aku agak sedikit grogi hingga lupa lirik lagu. Alhamdulillah pentasnya berjalan lancar, selesai bernyanyi tubuhku langsung tenang setelah panik karena tegang. Sesudah itu aku briefing sedikit dengan regu taurus soal pentas mereka yaitu ‘Drama Malin kundang’ aku membantu mendirect sedikit dan juga styling. Regu taurus berhasil membuat ramai kampung Zuhud dengan tawa karena drama komedinya yang konyol. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Api unggun, sate kambing, nasi liwet, pentas dan banyak hal yang menjadi kenangan indah di kampung Zuhud. Malam terakhir di kampung Zuhud ini kami tutup dengan tidur.
Explorasi 2019 hari ke-5
Hari ke-4
Suara adzan berkumandang, kami semua terbangun dari mimpi, tapi dalam posisi masih terbaring di ubin, satu-persatu mulai melangkahkan kaki ke toilet, shalat dan mencuci sandal yang sehari sebelumnya bertumpuk dengan tanah. kejadian mirip seperti kemarin, kami telat Berangkat ke saung untuk refleksi lagi karena mencuci sandal dulu, tapi sandal kami jadi sandal yang paling bersih di antara regu-regu lain.
Ke tempat pembuatan sotong
Kegiatan pertama hari ini adalah pergi ke tempat pembuatan sotong yang tempatnya cukup jauh dari rumah bu Eti maupun dari saung, disana tempatnya seru, besar, bersih dan sejuk. Kami diajari cara membuat sotong dengan karyawan disana, kami juga diberi kesempatan mencoba menggulung dan membakar sotong. Aku dan Kayyisha memiliki gulungan sotong yang rapi sehingga sotong buatan kami berdua disortir untuk dijual. Sayang sekali waktu aku mencoba Membakar adonan sotongnya, aku gagal, seharusnya berbentuk seperti pancake namun malah seperti obat nyamuk bakar.
Setelah berkunjung ke tempat pembuatan sotong Kami bersama regu-regu lain makan siang bersama di saung, dilanjutkan dengan belajar membuat angklung. Sayang sekali di kegiatan yang seru ini aku malah tertidur saking ngantuknya, tapi aku terbangun ditengah belajar main angklung. Ternyata bermain alat musik angklung itu seru!
Setelah rasa ngantukku pudar kami lanjut ‘Menangkap ikan’ di empang. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Regu putri lebih dulu menangkap ikan, hasil tangkapan regu-regu putri tak begitu banyak, sedangkan regu-regu putra mendapatkan ikan yang banyak karena ikanya sudah mabuk dan airnya juga sedikit menyurut, kalau ikannya mabuk dia akan mengapung jadi lebih mudah untuk ditangkap.
Waktu jalan pulang menuju rumah bu Eti tiba-tiba hujan deras. Aku sampai dirumah lebih dulu sementara Kayyisha, Titan dan Indri terjebak hujan deras di saung. Aku menunggu hujan reda di teras rumah bu Eti agar bisa mandi dengan reguku tapi ternyata mereka sedang asik main hujan-hujanan dengan yang lain. Jadilah aku masuk angin, untung Kayyisha dan Titan pulang lebih cepat, aku jadi bisa mandi lebih cepat.
Setelah mandi kami latihan bernyanyi bersama regu libra, regu libra menciptakan lagu dangdut koplo dan tim azalea sebagai ‘Backsoundnya’ tapi akhirnya mereka tak jadi tampil dikarenakan Alfar sedang sakit.
Pentas untuk kampung Zuhud
Malamnya kami akhirnya melakukan pentas di lapangan dekat saung. Di tengah lapangan juga dinyalakan api unggun dan disediakan makanan seperti ikan, sate kambing, nasi liwet dan banyak lagi. Regu azalea menjadi regu ke-3 yang tampil, saat tampil aku agak sedikit grogi hingga lupa lirik lagu. Alhamdulillah pentasnya berjalan lancar, selesai bernyanyi tubuhku langsung tenang setelah panik karena tegang. Sesudah itu aku briefing sedikit dengan regu taurus soal pentas mereka yaitu ‘Drama Malin kundang’ aku membantu mendirect sedikit dan juga styling. Regu taurus berhasil membuat ramai kampung Zuhud dengan tawa karena drama komedinya yang konyol. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Api unggun, sate kambing, nasi liwet, pentas dan banyak hal yang menjadi kenangan indah di kampung Zuhud. Malam terakhir di kampung Zuhud ini kami tutup dengan tidur.
Suara adzan berkumandang, kami semua terbangun dari mimpi, tapi dalam posisi masih terbaring di ubin, satu-persatu mulai melangkahkan kaki ke toilet, shalat dan mencuci sandal yang sehari sebelumnya bertumpuk dengan tanah. kejadian mirip seperti kemarin, kami telat Berangkat ke saung untuk refleksi lagi karena mencuci sandal dulu, tapi sandal kami jadi sandal yang paling bersih di antara regu-regu lain.
Ke tempat pembuatan sotong
Kegiatan pertama hari ini adalah pergi ke tempat pembuatan sotong yang tempatnya cukup jauh dari rumah bu Eti maupun dari saung, disana tempatnya seru, besar, bersih dan sejuk. Kami diajari cara membuat sotong dengan karyawan disana, kami juga diberi kesempatan mencoba menggulung dan membakar sotong. Aku dan Kayyisha memiliki gulungan sotong yang rapi sehingga sotong buatan kami berdua disortir untuk dijual. Sayang sekali waktu aku mencoba Membakar adonan sotongnya, aku gagal, seharusnya berbentuk seperti pancake namun malah seperti obat nyamuk bakar.
Setelah berkunjung ke tempat pembuatan sotong Kami bersama regu-regu lain makan siang bersama di saung, dilanjutkan dengan belajar membuat angklung. Sayang sekali di kegiatan yang seru ini aku malah tertidur saking ngantuknya, tapi aku terbangun ditengah belajar main angklung. Ternyata bermain alat musik angklung itu seru!
Setelah rasa ngantukku pudar kami lanjut ‘Menangkap ikan’ di empang. Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba! Regu putri lebih dulu menangkap ikan, hasil tangkapan regu-regu putri tak begitu banyak, sedangkan regu-regu putra mendapatkan ikan yang banyak karena ikanya sudah mabuk dan airnya juga sedikit menyurut, kalau ikannya mabuk dia akan mengapung jadi lebih mudah untuk ditangkap.
Waktu jalan pulang menuju rumah bu Eti tiba-tiba hujan deras. Aku sampai dirumah lebih dulu sementara Kayyisha, Titan dan Indri terjebak hujan deras di saung. Aku menunggu hujan reda di teras rumah bu Eti agar bisa mandi dengan reguku tapi ternyata mereka sedang asik main hujan-hujanan dengan yang lain. Jadilah aku masuk angin, untung Kayyisha dan Titan pulang lebih cepat, aku jadi bisa mandi lebih cepat.
Setelah mandi kami latihan bernyanyi bersama regu libra, regu libra menciptakan lagu dangdut koplo dan tim azalea sebagai ‘Backsoundnya’ tapi akhirnya mereka tak jadi tampil dikarenakan Alfar sedang sakit.
Pentas untuk kampung Zuhud
Malamnya kami akhirnya melakukan pentas di lapangan dekat saung. Di tengah lapangan juga dinyalakan api unggun dan disediakan makanan seperti ikan, sate kambing, nasi liwet dan banyak lagi. Regu azalea menjadi regu ke-3 yang tampil, saat tampil aku agak sedikit grogi hingga lupa lirik lagu. Alhamdulillah pentasnya berjalan lancar, selesai bernyanyi tubuhku langsung tenang setelah panik karena tegang. Sesudah itu aku briefing sedikit dengan regu taurus soal pentas mereka yaitu ‘Drama Malin kundang’ aku membantu mendirect sedikit dan juga styling. Regu taurus berhasil membuat ramai kampung Zuhud dengan tawa karena drama komedinya yang konyol. Malam itu menjadi malam yang berkesan bagiku. Api unggun, sate kambing, nasi liwet, pentas dan banyak hal yang menjadi kenangan indah di kampung Zuhud. Malam terakhir di kampung Zuhud ini kami tutup dengan tidur.
Explorasi 2019 hari ke-3
Hari ke-3
Duk,duk,duk, pagi-pagi pukul 03.59 kami terbangun mendengar suara bu Eti yang sedang beres-beres rumah. Seusai bangun tidur kami melipat sleeping bag dulu. Aku selalu saja gagal melipatnya, hal tersebut malah membuang-buang waktu hingga membuat kami telat berangkat ke saung untuk refleksi.
Setelah selesai shalat kami berangkat ke saung untuk refleksi. Kami menjadi regu paling telat datang karena ‘gagal melipat sleeping bag berkali-kali’.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti untuk sarapan. Tercium aroma gorengan yang rasanya manis dari dapur yaitu pisang goreng, pisang goreng buatan ibu Eti sangatlah lezat jadi kami hanya sarapan pisang goreng.
Selesai sarapan kami lanjutkan dengan tilawah surat an-naba, setiap orang 5 ayat berganti giliran.
Setelah tilawah kami seregu mengerjakan log book bersama sambil tiduran di teras rumah bu Eti. Kami juga iseng mencorat-coret ubin rumah bu Eti dengan pensil tapi setelah itu kami hapus lagi.
Seperti biasa, aku dan Kayyisha bermain kartu lagi, kali ini kami bermain di dekat tebing sambil melihat pemandangan hutan-hutan, desa-desa dan awan-awan. Tebingnya lumayan dekat dengan saung jadi masih ada kakak-kakak mentor yang mengawasi.
Bermain di rumah pak Ondin
“Kita balik ke rumah bu Eti yuk!“ ajakku pada Kayyisha, ditengah-tengah perjalanan pulang kami bertemu Vacha teman kami sedang buru-buru mengambil barang, lalu aku tanya “Eh, teman-teman yang lain pada kemana sih?“
“Lagi pada minum air kelapa di rumah inang regu leo“ jawabnya.
Aku dan Kayyisha langsung berlari kesana, takut kehabisan air kelapa. Kami bertemu regu taurus, leo, pisces, libra, aquarius dan azalea (Indri dan Titan) di rumah pak Ondin ayah inang regu leo mereka sedang meminum air kelapa dari batoknya, untungnya aku dan Kayyisha masih kebagian air kelapa, entah kenapa air kelapa yang kami minum rasanya kayak ada sodanya, tapi enak juga sih setelah kenyang air kelapa kami bermain kartu UNO dengan regu-regu yang tadi minum kelapa bersama kami, kami lesehan di taman rumah pak Ondin dengan pepohonan yang rimbun dan angin semilir, membuat kami betah disana.
Kegiatan yang diadakan kakak mentor hari ini adalah menanam pohon di hutan dekat saung sebagai kenang-kenangan. Kata Kak Andit, “Menanam pohon adalah kenan-kenangan yang long lasting“. Reguku menanam pohon mangga dan durian. Kami jadi belajar mengetahui penggunaan peralatan menanam. Disaat kami baru selesai menanam hujan pun turun, akhirnya kami lanjutkan dengan bermain hujan. sandal-sandal tebal dengan tanah membuat kami jadi malas jalan-jalan keman-mana. Akhirnya kami kembali ke rumah pak Ondin untuk bermain kartu lagi, rumah pak Ondin sangatlah seru untuk digunakan sebagai tempat bermain, luas dan sejuk.
Langit menunjukan waktu mahgrib, aku dan reguku segera kembali ke rumah bu Eti untuk mandi, shalat dan makan malam bersama melanjutkan “Sesi curhat“ sehari sebelumnya. Lalu berangkat Ke saung untuk refleksi dengan kakak mentor. Kami diberi tahu bahwa akan ada pentas kecil untuk warga kampung Zuhud yang diadakan oleh kakak mentor besok malam. Kami memilih bernyanyi untuk pentas tersebut, lagu yang kami pilih berjudul “Laskar pelangi“ jadi malam itu kami latihan menyanyi di rumah bu Eti.
sebelum tidur kami ditugaskan oleh kakak mentor untuk mengerjakan log book. Sambil mengerjakan kami memakan cemilan yang ada dimeja ruang tamu bu Eti, sampai seperempat toples besar, lalu tertidur pulas di dalam sleeping bag.
Duk,duk,duk, pagi-pagi pukul 03.59 kami terbangun mendengar suara bu Eti yang sedang beres-beres rumah. Seusai bangun tidur kami melipat sleeping bag dulu. Aku selalu saja gagal melipatnya, hal tersebut malah membuang-buang waktu hingga membuat kami telat berangkat ke saung untuk refleksi.
Setelah selesai shalat kami berangkat ke saung untuk refleksi. Kami menjadi regu paling telat datang karena ‘gagal melipat sleeping bag berkali-kali’.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti untuk sarapan. Tercium aroma gorengan yang rasanya manis dari dapur yaitu pisang goreng, pisang goreng buatan ibu Eti sangatlah lezat jadi kami hanya sarapan pisang goreng.
Selesai sarapan kami lanjutkan dengan tilawah surat an-naba, setiap orang 5 ayat berganti giliran.
Setelah tilawah kami seregu mengerjakan log book bersama sambil tiduran di teras rumah bu Eti. Kami juga iseng mencorat-coret ubin rumah bu Eti dengan pensil tapi setelah itu kami hapus lagi.
Seperti biasa, aku dan Kayyisha bermain kartu lagi, kali ini kami bermain di dekat tebing sambil melihat pemandangan hutan-hutan, desa-desa dan awan-awan. Tebingnya lumayan dekat dengan saung jadi masih ada kakak-kakak mentor yang mengawasi.
Bermain di rumah pak Ondin
“Kita balik ke rumah bu Eti yuk!“ ajakku pada Kayyisha, ditengah-tengah perjalanan pulang kami bertemu Vacha teman kami sedang buru-buru mengambil barang, lalu aku tanya “Eh, teman-teman yang lain pada kemana sih?“
“Lagi pada minum air kelapa di rumah inang regu leo“ jawabnya.
Aku dan Kayyisha langsung berlari kesana, takut kehabisan air kelapa. Kami bertemu regu taurus, leo, pisces, libra, aquarius dan azalea (Indri dan Titan) di rumah pak Ondin ayah inang regu leo mereka sedang meminum air kelapa dari batoknya, untungnya aku dan Kayyisha masih kebagian air kelapa, entah kenapa air kelapa yang kami minum rasanya kayak ada sodanya, tapi enak juga sih setelah kenyang air kelapa kami bermain kartu UNO dengan regu-regu yang tadi minum kelapa bersama kami, kami lesehan di taman rumah pak Ondin dengan pepohonan yang rimbun dan angin semilir, membuat kami betah disana.
Kegiatan yang diadakan kakak mentor hari ini adalah menanam pohon di hutan dekat saung sebagai kenang-kenangan. Kata Kak Andit, “Menanam pohon adalah kenan-kenangan yang long lasting“. Reguku menanam pohon mangga dan durian. Kami jadi belajar mengetahui penggunaan peralatan menanam. Disaat kami baru selesai menanam hujan pun turun, akhirnya kami lanjutkan dengan bermain hujan. sandal-sandal tebal dengan tanah membuat kami jadi malas jalan-jalan keman-mana. Akhirnya kami kembali ke rumah pak Ondin untuk bermain kartu lagi, rumah pak Ondin sangatlah seru untuk digunakan sebagai tempat bermain, luas dan sejuk.
Langit menunjukan waktu mahgrib, aku dan reguku segera kembali ke rumah bu Eti untuk mandi, shalat dan makan malam bersama melanjutkan “Sesi curhat“ sehari sebelumnya. Lalu berangkat Ke saung untuk refleksi dengan kakak mentor. Kami diberi tahu bahwa akan ada pentas kecil untuk warga kampung Zuhud yang diadakan oleh kakak mentor besok malam. Kami memilih bernyanyi untuk pentas tersebut, lagu yang kami pilih berjudul “Laskar pelangi“ jadi malam itu kami latihan menyanyi di rumah bu Eti.
sebelum tidur kami ditugaskan oleh kakak mentor untuk mengerjakan log book. Sambil mengerjakan kami memakan cemilan yang ada dimeja ruang tamu bu Eti, sampai seperempat toples besar, lalu tertidur pulas di dalam sleeping bag.
Explorasi 2019 hari ke-2
Hari ke-2
Kukuruyuuuuk!!! Suara ayam ada dimana-mana membuatku terbangun dari tidur, aku langsung bergegas shalat melihat bu Eti yang sudah memulai aktivitasnya. Selesai shalat kami berangkat ke saung untuk bertemu kakak-kakak mentor yang akan melakukan refleksi bersama.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti, membantu beres-beres rumah. Aku membantu bu Eti mengepel rumah, saat aku bertanya pada bu Eti “Bu mau pinjem pel, Pelnya dimana ya?“ bu Eti malah memberi selembar kain dan bilang “Ini pelnya“ ternyata bu Eti kalau mengepel pakai kain, alhasil akupun mengepel dengan kain. Ini pertama kalinya aku mengepel dengan kain untuk satu rumah, ternyata seru dan lelah juga.
“Ini makan dulu“ panggil bu Eti yang sedang menghidang semangkuk nasi dan lauk-lauknya. Kami lesehan di teras rumah bu Eti karena di teras lebih nyaman buat kami dan bisa sambil memberi makan kucing.
Sehabis sarapan kami diajak memotong ayam oleh bu Eti yang membantu memotong ayam pak Engkus tetangga depan rumah bu Eti dan yang mencabuti bulunya kami semua (regu azalea) aku juga coba memotong bagian-bagian tubuh ayam dengan kapak, ini pertama kalinya aku memotong dengan kapak jadi aku sedikit kesulitan saat memotong. Setelah ayam sudah dicuci bersih, kami mulai memasak dibantu oleh bu Eti, ayam ini kami olah menjadi ayam rica-rica.
Membuat rujak
Setelah lelah memasak kami dan regu libra membuat rujak bersama. Hal memalukan terjadi karena “Andini tak bisa mengupas mangga“ diruma, ibu selalu mengajari cara mengupas mangga dan aku tetap belum bisa sampai sekarang. mengupas mangga yang sudah matang Saja aku masih kesulitan, apalagi yang belum matang untung ada Kayyisha yang bisa mengupas mangga jadi ada yang membantuku. Sementara itu Indri dan Titan menumbuk bumbu rujak.
***
Aku dan Indri diajak mencuci baju bersama ibu Eti di dekat empang, disitu ada sumur yang memang biasa digunakan oleh warga sekitar. Disini aku mencuci baju dengan ember, dikucek-kucek, diperas-peras hingga yang ada baju yang sedang kupakai ikut basah. Aku selesai mencuci baju terlebih dahulu, disaat yang sama Kayyisha dan Titan sedang menangkap belalang di dekat empang juga, jadi aku ikut menangkap belalang bersama mereka, niatnya untuk dimasak tapi akhirnya tidak jadi karena kami lupa.
Satu jam berlalu, kami seregu kembali bermain lagi seperti biasa yaitu memanjat pohon di dekat rumah bu Eti dan main kartu. Karena kelaparan kami akhirnya mencicipi ayam rica-rica yang tadi dimasak bersama ibu Eti. Sambil makan kami juga ngobrol-ngobrol dengan bu Eti di dapur rumah.
Kenyang sudah perutku, waktunya bermain lagi! aku bermain kartu UNO dengan Kayyisha, Nico, Yazdad, Syauqi dan Danish di teras rumah bu Eti, ditengah-tengah saat bermain tiba-tiba ada sekelompok anak kampung (mereka lebih suka dipanggil begitu) yang mengajak kami bermain bola dilapangan yang dekat dengan saung, aku hanya nonton mereka main saja dari saung karena siang jam 12-an bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk bermain diluar ruangan.
Bermain di rumah pak Jaka
Lama-lama cuaca diluar semakin panas membuatku ingin pulang kerumah bu Eti tetapi tim orchid yaitu Khansa, Tachi dan Aliyah mengajak kami regu-regu putri untuk bermain bersama di rumah pak Jaka, seperti biasa, permainan yang kami mainkan adalah kartu remi dan UNO, yang menang akan mendapatkan keripik gula aren kesukaan kami semua tapi hal itu hanya bertahan sampai ronde ke-2. “Eh, pada mau bantuin masak nggak nih?“ tanya bu Itin ibu inang tim orchid. Kami semua langsung berlari ke dapur, cuci tangan, duduk, menunggu diminta tolong, “siapa nih yang mau motongin kangkung?“ tanya bu Itin lagi. Kami semua bergegas mengambil pisau, talenan dan baskom untuk memotong kangkung yang pada akhirnya... kami memotong secara bergantian. Aku ingin memotong kangkung dengan cepat agar ibu Itin tidak menunggu lama yang ada kami malah bermain “siapa paling cepat memotong kangkung“.
Setelah berjam-jam di rumah pak Jaka, kami kembali ke rumah bu Eti, ternyata bu Eti sedang mencari kayu bakar di hutan dekat rumah lalu kami ikut membantunya, kami juga belajar memotong-motong dahan pohon pisang dengan golok, lalu pulangnya kami yang gotong-gotong kayu bakarnya.
Seharian ini kami sudah banyak main, berkeringat lalu menjadi bau, pliket dan panas. Ini adalah saat yang tepat untuk mandi, aku dan Kayyisha numpang mandi di rumah pak Komar dengan Tisyara dan Naura. Selesai mandi kami semua shalat mahgrib berjama’ah di masjid yang agak jauh dari rumah bu Eti (aku lupa nama masjidnya). Sesudah itu kami kumpul refleksi malam hari di saung dengan kakak mentor, regu azalea diberi kesempatan untuk menelepon orangtua masing-masing, saat aku menelepon hanya ibu dan kakaku yang ada, ayahku sedang mandi jadi aku menelepon dengan kucing-kucing ku dirumah, suaranya lucu sekali membuatku kangen dengan mereka. Aku menelepon paling lama, membuat teman-teman reguku menunggu lama.
Karena Kami sudah lapar dan ngantuk jadi kami balik ke rumah bu Eti dari saung. Sebelum tidur kami makan dulu di teras rumah, sambil makan kami melakukan “Sesi curhat“ hal ini kami lakukan agar saling kenal dekat satu sama lain.
Waktu menunjukan pukul 09.00, tak terasa kami ngobrol cukup lama sampai lupa kalau bu Eti masih menunggu kami di dalam rumah, akhirnya kami memutuskan untuk tidur.
Kukuruyuuuuk!!! Suara ayam ada dimana-mana membuatku terbangun dari tidur, aku langsung bergegas shalat melihat bu Eti yang sudah memulai aktivitasnya. Selesai shalat kami berangkat ke saung untuk bertemu kakak-kakak mentor yang akan melakukan refleksi bersama.
Setelah refleksi kami kembali ke rumah bu Eti, membantu beres-beres rumah. Aku membantu bu Eti mengepel rumah, saat aku bertanya pada bu Eti “Bu mau pinjem pel, Pelnya dimana ya?“ bu Eti malah memberi selembar kain dan bilang “Ini pelnya“ ternyata bu Eti kalau mengepel pakai kain, alhasil akupun mengepel dengan kain. Ini pertama kalinya aku mengepel dengan kain untuk satu rumah, ternyata seru dan lelah juga.
“Ini makan dulu“ panggil bu Eti yang sedang menghidang semangkuk nasi dan lauk-lauknya. Kami lesehan di teras rumah bu Eti karena di teras lebih nyaman buat kami dan bisa sambil memberi makan kucing.
Sehabis sarapan kami diajak memotong ayam oleh bu Eti yang membantu memotong ayam pak Engkus tetangga depan rumah bu Eti dan yang mencabuti bulunya kami semua (regu azalea) aku juga coba memotong bagian-bagian tubuh ayam dengan kapak, ini pertama kalinya aku memotong dengan kapak jadi aku sedikit kesulitan saat memotong. Setelah ayam sudah dicuci bersih, kami mulai memasak dibantu oleh bu Eti, ayam ini kami olah menjadi ayam rica-rica.
Membuat rujak
Setelah lelah memasak kami dan regu libra membuat rujak bersama. Hal memalukan terjadi karena “Andini tak bisa mengupas mangga“ diruma, ibu selalu mengajari cara mengupas mangga dan aku tetap belum bisa sampai sekarang. mengupas mangga yang sudah matang Saja aku masih kesulitan, apalagi yang belum matang untung ada Kayyisha yang bisa mengupas mangga jadi ada yang membantuku. Sementara itu Indri dan Titan menumbuk bumbu rujak.
***
Aku dan Indri diajak mencuci baju bersama ibu Eti di dekat empang, disitu ada sumur yang memang biasa digunakan oleh warga sekitar. Disini aku mencuci baju dengan ember, dikucek-kucek, diperas-peras hingga yang ada baju yang sedang kupakai ikut basah. Aku selesai mencuci baju terlebih dahulu, disaat yang sama Kayyisha dan Titan sedang menangkap belalang di dekat empang juga, jadi aku ikut menangkap belalang bersama mereka, niatnya untuk dimasak tapi akhirnya tidak jadi karena kami lupa.
Satu jam berlalu, kami seregu kembali bermain lagi seperti biasa yaitu memanjat pohon di dekat rumah bu Eti dan main kartu. Karena kelaparan kami akhirnya mencicipi ayam rica-rica yang tadi dimasak bersama ibu Eti. Sambil makan kami juga ngobrol-ngobrol dengan bu Eti di dapur rumah.
Kenyang sudah perutku, waktunya bermain lagi! aku bermain kartu UNO dengan Kayyisha, Nico, Yazdad, Syauqi dan Danish di teras rumah bu Eti, ditengah-tengah saat bermain tiba-tiba ada sekelompok anak kampung (mereka lebih suka dipanggil begitu) yang mengajak kami bermain bola dilapangan yang dekat dengan saung, aku hanya nonton mereka main saja dari saung karena siang jam 12-an bukanlah waktu yang tepat bagiku untuk bermain diluar ruangan.
Bermain di rumah pak Jaka
Lama-lama cuaca diluar semakin panas membuatku ingin pulang kerumah bu Eti tetapi tim orchid yaitu Khansa, Tachi dan Aliyah mengajak kami regu-regu putri untuk bermain bersama di rumah pak Jaka, seperti biasa, permainan yang kami mainkan adalah kartu remi dan UNO, yang menang akan mendapatkan keripik gula aren kesukaan kami semua tapi hal itu hanya bertahan sampai ronde ke-2. “Eh, pada mau bantuin masak nggak nih?“ tanya bu Itin ibu inang tim orchid. Kami semua langsung berlari ke dapur, cuci tangan, duduk, menunggu diminta tolong, “siapa nih yang mau motongin kangkung?“ tanya bu Itin lagi. Kami semua bergegas mengambil pisau, talenan dan baskom untuk memotong kangkung yang pada akhirnya... kami memotong secara bergantian. Aku ingin memotong kangkung dengan cepat agar ibu Itin tidak menunggu lama yang ada kami malah bermain “siapa paling cepat memotong kangkung“.
Setelah berjam-jam di rumah pak Jaka, kami kembali ke rumah bu Eti, ternyata bu Eti sedang mencari kayu bakar di hutan dekat rumah lalu kami ikut membantunya, kami juga belajar memotong-motong dahan pohon pisang dengan golok, lalu pulangnya kami yang gotong-gotong kayu bakarnya.
Seharian ini kami sudah banyak main, berkeringat lalu menjadi bau, pliket dan panas. Ini adalah saat yang tepat untuk mandi, aku dan Kayyisha numpang mandi di rumah pak Komar dengan Tisyara dan Naura. Selesai mandi kami semua shalat mahgrib berjama’ah di masjid yang agak jauh dari rumah bu Eti (aku lupa nama masjidnya). Sesudah itu kami kumpul refleksi malam hari di saung dengan kakak mentor, regu azalea diberi kesempatan untuk menelepon orangtua masing-masing, saat aku menelepon hanya ibu dan kakaku yang ada, ayahku sedang mandi jadi aku menelepon dengan kucing-kucing ku dirumah, suaranya lucu sekali membuatku kangen dengan mereka. Aku menelepon paling lama, membuat teman-teman reguku menunggu lama.
Karena Kami sudah lapar dan ngantuk jadi kami balik ke rumah bu Eti dari saung. Sebelum tidur kami makan dulu di teras rumah, sambil makan kami melakukan “Sesi curhat“ hal ini kami lakukan agar saling kenal dekat satu sama lain.
Waktu menunjukan pukul 09.00, tak terasa kami ngobrol cukup lama sampai lupa kalau bu Eti masih menunggu kami di dalam rumah, akhirnya kami memutuskan untuk tidur.
Langganan:
Postingan (Atom)

Hari itu menjadi hari yang sangat berkesan, karena mengeksplorasi penyu adalah cita-citaku sejak kecil dan tentu saja bonus cerita baskom yang bergerak tadi hehehe.